Sabtu, 07 Desember 2019
Tips Anti Norak Makan di Cafe Meskipun Dompet Cekak
Senin, 09 April 2018
Mobil Mainan Idaman
"Bunda, uang simpananku sudah hampir penuh," kata Tian senang. Dia menunjukkan kaleng bekas biskuit lebaran kepada bunda.
Bunda mengangguk dan berkata, "besok kita buka tabungan ke Bank, ya?"
"Jangan, Bunda! Aku kan, menabung karena ingin membeli mainan yang ada di tivi," cegah Tian sambil memeluk kalengnya.
Melihat tingkah anaknya, bunda tertawa terbahak-bahak. Karena bunda tahu, kalau Tian ingin membeli mainan mobil-mobilan beserta jalannya. Harganya sangat mahal. Ayah dan Bunda tidak ingin mengikuti kemauan Tian. Tian harus mau menabung sendiri.
Beruntung, Tian memiliki banyak bude dan tante yang senantiasa memberikan uang saat bertamu ke rumahnya. Selain itu, dia juga rajin menyisihkan uang jajan dari bunda.
Kini setelah hampir setahun, kaleng tempat penyimpanan sudah hampir penuh dengan uang yang beraneka warna.
Jika dihitung, uang yang didapat hampir bisa untuk membeli mobil mainan yang diidamkan.
Dengan hati riang, Tian pergi ke sekolah. Tapi saat pelajaran kedua, bapak guru memberikan kabar duka. Rumah Raihan teman sebangkunya, kebakaran. Semua peralatan sekolah dan barang-barang keluarganya habis terbakar. Bapak guru meminta keikhlasan murid-murid untuk menyumbangkan barang atau uang, esok. Hati Tian tersentuh, dia ikut merasakan kesedihan teman sebangkunya.
Sesampainya di rumah, Tian langsung mengambil kaleng yang berisi uang simpanannya.
"Bunda, seandainya Tian tidak jadi membeli mainan ... apa Bunda, marah?"
"Hah? Kenapa Bunda harus marah, bukankah itu uang milik kamu?" Bunda menghampiri Tian, lalu duduk di sampingnya.
"Itu hak kamu, mau kamu pergunakan untuk apa. Ada masalah, kah?" tanya bunda.
"Tidak, Bund! Hanya saja, Tian ingin memberikan semua uang ini untuk Raihan. Tadi malam, rumahnya terbakar habis. Raihan tidak bisa bersekolah, karena tidak memiliki peralatan sekolah," jelas Tian.
Mata bunda berkaca-kaca, terharu.
"Tian, ikhlas? Beneran tidak apa-apa kalau tidak jadi membeli mainan yang sudah lama kamu impikan?" tanya bunda sambil mengusap rambut Tian.
"Insya Allah Tian ikhlas, Bunda. Tian kan bisa mengumpulkan kembali, lagi pula tahun ini sudah ada mainan yang lebih bagus lagi," jawabnya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, semoga anak bunda menjadi anak yang solih," kata bunda sambil memeluk Tian.
"Aamiin ...," ucap Tian, membalas pelukan bunda.
Tamat
#30DEM
#30daysemakmendongeng
#day9
Selasa, 03 April 2018
Kupu-kupu Malang
Rino berlari-lari di tanah kosong, sebelah rumahnya. Anak lelaki itu sedang mengejar kupu-kupu. Di dalam botol besar bekas air mineral, telah ada satu kupu-kupu kecil. Sayapnya terlihat robek di beberapa bagian. Bulu-bulu halus yang penuh warna pun rontok. Bekas dipegang tangan kecil Rino. Sepertinya, Rino memasukkan dengan paksa kupu-kupu malang itu.
"Rino, ayo pulang! Waktunya makan siang," panggil ibu.
"Baik, Bu!" Rino berlari kecil menuju rumahnya.
Rumah Rino berada di perumahan yang masih dikelilingi persawahan. Banyak serangga yang hidup di sekitar rumahnya.
"Rino, apa yang ada di tanganmu, Nak?" tanya ibu terkejut. Dia mengambil botol yang dibawa anaknya.
"Astaghfirullah, kasihan kupu-kupunya lemas. Ayo kita keluarkan dia! Ibu takut, kupu-kupunya nanti mati," bujuk ibu lembut pada Rino.
Rino menurut, tapi bingung. Maka dia pun bertanya, "kenapa kupu-kupu bisa mati, Bu? Apakah baterenya habis?"
"Oh, tidak. Kupu-kupu, belalang, dan binatang-binatang yang lain, itu makhluk ciptaan Allah. Sama seperti manusia juga tumbuh-tumbuhan, mereka semua makhluk hidup yang hidup dan matinya ditentukan Allah. Tidak memakai batere."
Rino mengambil mobil dengan pengendali jarak jauh miliknya, "kalau ini, Bu ... mengapa pakai batere. Ini, dia bisa hidup. Berjalan maju dan mundur."
"Ini bukan makhluk hidup, dia diciptakan atau dibuat oleh manusia. Makanya harus memakai batere," jelas ibu. Lalu dikeluarkannya batere yang ada di balik mobil Rino. "Ini baterenya, kalau dicopot mobilnya mati."
Kini, Rino tahu beda makhluk hidup dan benda mati. Siapa yang menciptakan semua makhluk hidup dan siapa yang membuat mainan miliknya.
"Kalau sudah tahu, kamu jangan sakiti makhluk ciptaan Allah lagi ya!" Nasihat ibu sambil menowel hidung Rino.
"Iya, Bu ... Rino berjanji. Kasihan kalau mati, gak punya batere yang bisa diganti. Seperti mobil Rino," jawabnya sambil mengangkat mobil miliknya.
"Ya sudah. Ayuk cuci tanganmu, kita makan."
Ibu menggandeng tangan Rino, masuk ke dalam rumah.
Tamat
#30DEM
#30daysemakmendongeng
#day8
Senin, 02 April 2018
Mumu Dan Tiara Barunya
Di sebuah hutan nan luas, Mumu kelinci sedang asyik merumput. Tiba-tiba dia melihat sesuatu berkilauan di timpa cahaya matahari pagi. Dengan sigap, dia melompat-lompat mendekati benda itu. Hap ... hap ... hap! Sampailah dia di sana.
Ternyata, dia menemukan sebuah tiara yang sangat cantik. Dengan mata berbinar-binar dia pun memakainya, lalu berkaca di permukaan danau.
"Subhanallah, cantik sekali. Cocok sekali di kepalaku," gumam Mumu saat melihat pantulan wajahnya di air.
"Hai! Kamu sedang apa?" tanya Pipi burung yang tiba-tiba datang. Dia mampir untuk minum di danau yang sama.
"Oh, hanya mencoba ini," jawab Mumu sambil menunjuk tiara yang dipakainya.
"Waaah, cantik sekali kamu memakai tiara ini. Tiara yang bagus, pasti mahal harganya," puji Pipi dengan kagum.
"Iya, dong!" Rupanya, Mumu lupa diri. Dia tidak berterus terang kalau tiara yang dipakainya bukan miliknya.
Ah, tidak ada yang tahu juga kalau tiara ini bukan milikku, pikirnya.
Dengan pongah, dia melompat-lompat berkeliling hutan. Tujuannya adalah memamerkan kecantikan tiara barunya, agar semakin banyak yang memuji.
Dan benar, banyak sekali binatang-binatang yang kagum dengan kecantikan tiaranya. Beberapa binatang langsung memuji-muji dirinya.
Hingga sampailah dia di depan rumah Tita tupai. Dia mendengar suara tangisan yang menyayat hati.
"Aku tak sengaja menjatuhkannya, Bu." Terdengar suara Tita bergetar menangisi sesuatu.
"Bukan apa-apa, Tita. Tapi tiara itu milik putri kecantikan yang dipercayakan kepadaku," ibu Tita berkata dengan suara agak keras, karena panik.
Mendengar percakapan itu, Mumu melepas tiara yang ada di kepalanya. Menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya.
Mungkinkah tiara ini yang mereka cari, pikirnya. Lalu muncul suara yang mengganggu pikirannya, ah ... tidak mungkin! Kamu menemukannya jauh dari rumah mereka. Pasti bukan tiara ini!
Lalu dia teringat nasihat ibunya, "Mumu, tidak penting penilaian orang terhadapmu, yang terpenting nilai kita di hadapan Allah. Jelek atau cantik bukan dari penampilan, tapi dari kebaikan hatimu, karena itu adalah cantik yang sebenarnya. Cantik di hadapan Allah SWT."
Dimantapkan hatinya, tiara ini bukan miliknya. Dia akan menanyakan pada mereka, siapa tahu tiara ini benar milik mereka.
#30DEM
#30daysemakmendongeng
#day7
Jumat, 30 Maret 2018
Rosefly
"Hai, jelek! Sini, garuk punggungku!" perintah Lila, seekor belalang kepada Rose.
Rose adalah seekor ulat yang lahir di tangkai bunga mawar. Kebun milik Pak Anwar penuh tanaman. Baik itu pohon buah-buahan maupun tanaman bunga-bunga. Setiap hari, selalu ramai dengan berbagai binatang yang bermain.
"Aku capek, badanku terasa berat Lila," jawab Rose.
"Oh, kamu sudah berani membantah rupanya!" hardik Lila pada Rose.
Dengan satu ketukan kakinya, teman-teman satu kelompoknya berkumpul. Mereka bersiap akan memukul Rose. Rose dianggap binatang lain sebagai binatang jelek dan gendut.
Tidak pantas menjadi teman mereka. Kecuali Rose mau disuruh-suruh, maka dia akan dianggap sebagai teman.
"HENTIKAN!" teriak Rose tiba-tiba.
Dia tidak tahu, mendapat kekuatan dari mana. Tapi Rose sudah tidak tahan lagi dengan sikap teman-temannya. Maka dia pun menjadi berani, untuk melawan mereka.
Melihat suara lantang yang dikeluarkan Rose, beberapa serangga mundur ke belakang. Lila, maju ke hadapan Rose.
"Kalau aku tidak mau berhenti, apa yang akan kamu lakukan, GENDUT?" tantang Lila yang memiliki tubuh ramping indah sebagai belalang sembah.
"Aku ... Aku hanya ingin kalian berhenti memanggilku jelek dan gendut," jawab Rose sambil menangis. Lalu dia berlari pulang, diiringi ejekan riuh dari teman-temannya.
Sesampainya di rumah yang terletak di antara ranting tanaman Mawar, Rose menangis sejadi-jadinya. Dia menangis hingga kelelahan dan tertidur pulas. Tanpa disadarinya, dari dalam tubuhnya muncul selaput putih yang membungkus seluruh tubuhnya. Rose telah menjadi kepompong.
Hingga suatu hari, Rose bangun dan merasa tubuhnya kaku-kaku. Dia ingin meregangkan kaki dan tangannya. Tapi ... oh, apa ini? batinnya.
Dengan perlahan, dia meregangkan tubuhnya yang telah berubah menjadi langsing. Dan ... wow! Di punggungnya tumbuh sepasang sayap yang sangat indah. Berwarna hitam dengan bercak putih dan biru.
"Subhanallah, indahnya!" Rose merasa takjub dan berputar-putar mengepakkan sayapnya yang indah.
Lalu Rose pun mulai terbang memutari bunga-bunga mawar yang sedang mekar. Hingga menuju gerombolan serangga teman-temannya.
"Wow! Lihatlah, siapakah kupu-kupu cantik yang datang ke mari?" Kekaguman muncul dari mulut teman-temannya. Mereka memuji kecantikan Rose. Tidak ada yang tahu, bahwa yang ada di depan mereka adalah Rose yang dulu jelek dan gendut.
"Masuklah ke kelompok kami, serangga cantik tak terkalahkan." Seekor ngengat coklat dengan bintik hitam menawarkannya untuk bergabung.
"Ya, sudah waktunya Lila digantikan kedudukannya, kamu lebih cantik darinya," sambung seekor capung.
"Ya!"
"Ya!"
"Ya!"
Serangga-serangga lain bersahutan, menyetujui usulan mereka. Kali ini, Lila terpojok. Tidak ada lagi yang peduli atau pun membelanya. Belalang sembah itu menangis, karena disingkirkan begitu saja setelah datang serangga cantik yang baru.
"Aku Rose ... Rosefly tepatnya," jawab Rose lantang, "aku tidak mau menjadi bagian dari kelompok serangga seperti kalian. Yang melihat pertemanan hanya dari penampilan!"
Rosefly menggandeng tangan Lila yang masih menangis sedih. Mengajaknya pergi menjauh dari mereka.
"Maafkan aku, Rose. Aku selana ini telah bersikap buruk padamu," kata Lila belalang.
"Tak mengapa, Lila. Aku telah memaafkanmu," jawab Rosefly.
Lalu mereka berdua bergandeng tangan dan kembali pada serangga-serangga temannya.
"Wahai teman-teman, dengarlah kata-kata kami! Jangan pernah jahat pada temanmu hanya karena dia jelek, gendut, atau bodoh. Karena kita semua sama. Ada saatnya kita nanti kita akan menemukan keistimewaan dalam diri kita." Rosefly berkata bergantian dengan Lila.
Akhirnya, mereka semua saling berangkulan dan meminta maaf.
Tamat
Senin, 19 Februari 2018
Bawakan Aku Tabib
Ibu, tabib ke tujuh yang kau panggil kemarin
Membebat luka di hatiku
Membubuhi dengan ramuan dari bunga
Mengundang banyak kupu-kupu
Ibu, ada rasa bahagia yang menggelitik
Kala mereka terbang, di sudut-sudut hati
Ibu, tolong panggil tabib itu kembali!
Saat dia pergi, semua kupu-kupu ikut pula pergi
Ibu ....
Hatiku telah sembuh, tapi kosong tanpa penghuni
Bawalah dia kembali, Bu!
Kan aku ikat erat dia, agar tak dapat pergi lagi
*****
Setelah membenahi semua berkas dari atas meja, aku mengambil gawai yang ada di dalam laci meja kerja. Aku selalu lupa menengok saat pekerjaan menyita waktuku. Masya Allah, ada puluhan chat dari ibu dan kakak-kakakku. Mereka memintaku pulang secepatnya. Ada apakah? Tiba-tiba dadaku bergemuruh, tidak biasanya mereka begitu.
Setelah melihat meja telah rapi, baru aku bisa meninggalkannya pulang. Tidak enak rasanya, esok saat kembali bekerja, melihat meja berserakan. Mengganggu mood kerja. Meskipun sebenarnya aku hanya staf admin biasa. Sedari kecil, ibu mengajariku untuk merapikan apa pun barang yang telah aku pakai, sehingga menjadi sebuah kebiasaan yang positif dalam hidupku. Mengingat sosok perempuan yang masih cantik dengan usia 70an itu, hatiku kembali berdegup. Semoga, beliau baik-baik saja.
Tidak memakan waktu lama, hanya setengah jam saja berkendara di atas motor matic, hasil kreditan yang aku cicil sendiri. Rumah terlihat ramai dengan kehadiran beberapa saudara dari bapak juga ibu. Lalu entah siapa mereka, begitu banyak orang asing yang aku belum pernah melihatnya.
Begitu aku melangkangkahkan kaki masuk ke halaman rumah, kakak pertamaku langsung menyambar tanganku. Menyeret lewat pintu samping dan tanpa memberi kesempatan mulut ini bertanya, dia mendorongku ke dalam kamar mandi.
"Lekas, mandi!" ucapnya singkat.
Bagai kerbau dicocok hidungnya, aku ikuti saja kemauannya. Meskipun hati masih bertanya-tanya. Setelah selesai mandi, ternyata kakakku itu sudah bersiap di depan kamar mandi dengan membawa sebuah gaun berwarna putih, menyuruhku kembali masuk dan berganti pakaian. Gaun cantik berwarna putih, dengan bunga-bunga kecil berwarna pink. Sungguh sangat manis.
Aku tertegun di depan kaca, yang terpasang di dalam kamar mandi. Berapa lama aku tidak melihat gambar yang ada di depanku ini. Selama ini, aku telah menyembunyikan diri. Bahkan pada diriku sendiri. Tidak pernah berdandan dan berlama-lama di depan cermin. Aku merasa kecewa dan terluka. Seorang lelaki yang pernah dikenalkan ibu padaku, pergi tidak kembali. Hanya karena, melihat telingaku yang tidak sempurna sebelah. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi menyibakkan rambutku. Berjalan menunduk, tak berani menatap siapa pun yang ada di sekitarku.
Sebulan lalu, ibu kembali mengenalkanku pada seorang lelaki. Dia begitu sopan dan baik. Dia terlihat berbeda dengan lelaki yang datang sebelum-sebelumnya. Melewati hari bersamanya terasa dunia begitu indah. Tapi aku tidak berani berharap banyak. Bahwa dia adalah jodohku. Sudah enam lelaki, menjauhiku setelah aku menaruh harapan besar bahwa mereka adalah jodohku. Awal yang baik, tapi selalu berakhir menyakitkan.
Aku tetap menjaga jarak dan menunduk setiap bertemu dengannya. Tidak berani terlalu membuka diri. Meskipun hatiku terasa bahagia, bagai ada taman penuh kupu-kupu. Yang setiap saat membuatku tersenyum. Dion, sepertinya tak pernah mempermasalahkan sikapku. Dia tetap penuh ceria mengajakku berbicara dan bercanda. Tapi, saat aku putuskan untuk mulai membuka diri, Dion tak datang lagi. Sisi hatiku kembali sepi.
"Ve, apa kamu telah siap?" tanya kakak sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar.
Aku keluar, dengan mengikat tinggi rambutku. Aku merasa, ibu akan memperkenalkan lagi pada seseorang. Kali ini, aku telah siap. Mereka harus tahu kebenaran tentang diriku, mulai dari awal. Ku lihat ada gurat keterkejutan dari raut mukanya. Tapi setelah itu, dia terlihat tersenyum.
"Kamu cantik sekali, Ve!" bisiknya padaku. Aku balas dengan senyum tipis.
"Sebenarnya ada apa, ini?" tanyaku sambil berbisik pula.
"Hari ini, Dio melamarmu. Lelaki yang dulu dikenalkan padamu dulu."
Aku terkesiap, dan menghentikan langkahku.
"Kenapa?" tanyaku setengah tak percaya, "bukankah dia meninggalkanku setelah tahu, cacat yang aku miliki juga?"
"Sedari awal, dia sudah tahu tentang cacatmu itu. Tapi tidak pernah mempersoalkannya, bahkan mantap hati bahwa kamulah yang dicarinya selama ini. Dion tidak datang kemari agak lama, karena menemui orang tuanya. Meminta mereka, untuk melamarkan kamu. Orang tuanya tinggal jauh di luar pulau, yang susah sinyal. Sehingga tidak sempat memberitahukanmu kepergiannya. Seperti itulah tadi penjelasannya pada ibu dan kakak tadi siang."
Kupu-kupu ... akankah kau kembali
Bersarang di hati, menggelitik hati
Membuat bibir tak henti mengulum senyum
Membuat indah hari-hari sepiku
***** tamat *****
Selasa, 23 Januari 2018
Maafkan Aku
Deburan ombak di pantai, mengalahkan kuatnya suara tangisanku.
Bahkan berteriak-teriak pun, tak akan berarti di sini.
Aku menangis hingga mataku tak sanggup mengeluarkan setetes air mata.
"Aku tidak boleh terlihat menangis, di hadapanmu," bisikku pada diri sendiri.
Setelah puas menangis, aku pun turun dari tingginya tebing.
"Aaah!" pekikku, saat satu kakiku, meleset dari pijakannya.
Hampir saja, aku menemuimu di bawah sana. Di antara karang yang terjal. Bukan salahku, kamu terjatuh. Aku hanya tidak ingin kamu selalu memaksaku, untuk mencintaimu. Aku hanya ingin menyingkirkanmu, jauh dari jangkauan tanganku. Hanya saja, kamu berdiri terlalu pinggir.
"Jangan salahkan aku. Maafkan aku ...."
**** Tamat ****
Minggu, 29 Oktober 2017
Hatiku Musuhku
Semalam adalah my bad day. Belum pernah aku ribut besar seperti kemarin, dengan suamiku. Aku cemburu, karena dia lebih mementingkan kakaknya di saat aku juga membutuhkan perhatian. Bukan hanya sekali aku memendam rasa sebalku, sehingga saat tak kuasa menahannya lagi, masalah itu pun membuatku meledak. Bagaimana tidak jengkel, kakaknya meminta diantar berbelanja sementara di rumah anaknya sakit. Sedang butuh perhatian, tapi dia tega meninggalkannya.
Pagi ini, aku sengaja membiarkannya menyiapkan segala keperluan kantornya sendiri. Namun, makan pagi dan teh hangat sudah tersedia sejak dia belum terbangun.
Aku pura-pura kembali tidur, merajuk. Dia paham dengan sikapku, tapi membiarkannya. Bahkan kecupan hangat sebelum berangkat ke kantor, tidak dia lakukan. Sambil memejamkan mata, hatiku gondok sekali.
Setelah suara mobilnya berlalu, aku membuka mata. Lalu menangis sejadi-jadinya. Beruntung, anakku masih terlelap karena semalaman tak bisa tidur nyenyak. Dengan rasa tak karuan, iseng aku membuka FB di gawai putih milikku.
Sebuah permintaan pertemanan baru, muncul dari sebuah nama yang tidak asing, diingatanku ... Lucky.
Tiba-tiba dadaku berdesir, kenangan lama seperti terputar kembali di kotak memoriku Lucky adalah kakak kelas yang gigih mengejarku saat kuliah. Kami begitu akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. Kebersamaan yang memunculkan perasaan cinta di hati kami. Di saat aku yakin, hatinya utuh hanya untukku. Tiba-tiba dia menjauh tanpa ada penjelasan.
Karena belum ada deklarasi atau pernyataan cinta yang resmi darinya, aku terlalu gengsi menanyakan alasan apa yang membuatnya menjauhiku. Sampai suatu hari, aku mendengar dari teman seangkatannya, dia telah bertunangan dengan teman angkatan yang sama, hanya saja dari fakultas yang berbeda. Seorang perempuan, yang kebetulan tetangga kampung denganku.
Sakit hatiku tak terkira, karena sebelum Lucky menjauh, perempuan itu mendekatiku. Tiba-tiba saja baik dan menganggap aku adiknya sendiri. Alasannya, sebagai tetangga dan kebetulan kami di satu kampus yang sama.
Kemana aku pergi, dia meminta ijin untuk mengikutiku. Sebenarnya hati ini curiga, tapi aku tepiskan saja. Siapalah saya, begitu pikirku waktu itu. Tak mungkin kakak itu memiliki niat jahat, karena dia lebih kaya dan pintar dibandingkan diriku. Ternyata, aku salah. Dia mendekatiku karena penasaran dengan perempuan pujaan hati Lucky. Dia dan Lucky telah bersahabat, jauh sebelum aku datang sebagai maba (mahasiswa baru).
Dan, terjawab sudah alasan sebenarnya setelah dia dan Lucky menjalin hubungan pertunangan. Dia ingin mengorek keterangan yang menjatuhkanku di depan Lucky, demi untuk mendapatkan hatinya. Dan dia berhasil menghasut lelaki yang kini sah menjadi miliknya itu. Pernikahan tanpa undangan untukku, dilaksanakan tiga bulan kemudian.
"Fay, aku Lucky. Masih ingatkah, padaku?"
Begitulah awal chat dia, di messengerku. Luka yang telah lama kering, kini kembali terbuka. Emosi pada suami, dan sakit hati padanya membuat berpikiran jahat. Ingin rasanya membalas dengan menggodanya terlebih dahulu, setelah itu akan aku campakkan persis seperti yang dilakukannya padaku, bertahun-tahun lalu.
Lalu, aku menulis chat balasan untuknya,
"Tentu saja, tak mungkin aku melupakan seorang yang pernah membuat hariku berbunga-bunga." (Emoticon cinta)
Tapi, aku tidak pernah mengirimkannya. Setelah anakku terbangun dan memanggil,
"Mama!"
Aku mengucapkan istighfar berkali-kali, lalu mengatakan pada diriku.
"Maafkan semua yang pernah menyakitimu, musuhmu bukanlah mereka. Tapi hatimu sendiri."
****** End ******
Sabtu, 28 Oktober 2017
Syair Untuk Puteri
Oleh: Nucita
Berilmu bagaikan padi
Menunduk saat berisi
Mengajar hanya tuk mengabdi
Bagi negeri dan ibu pertiwi
Wahai sang puteri sejati
Sejarahmu kini abadi
Tentang upayamu mendobrak tradisi
Harumlah namamu, Kartini ....
Rabu, 18 Oktober 2017
Tips Agar Rajin Menulis di Blog
Sudah sering terjadi, memiliki blog pribadi rencana untuk ini dan itu. Tapi pada kenyataannya, blog yang sudah dibuat susah payah kosong melompong.
Berbagai alasan dikemukakan tapi satu muaranya, malas.
Saya ada tips menulis agar tidak malas mengisi blog dengan tulisan.
1. Tanyakan apa motivasimu membuat blog, jika hanya sekedar coba-coba lebih baik berhenti membaca tips ini sekarang. Percuma.
Jika memiliki satu motivasi, kalian bisa tambahkan sebanyak-banyaknya. Agar saat motivasi pertama gugur, masih banyak motivasi yang bisa kalian gunakan untuk menulis. Tere Liye mengatakan, dia memiliki 99 motivasi dalam menulis agar saat satu gugur, dia masih ada 98 yang lain. Gunakan ini untuk mendorongmu menulis di blog kamu.(Tere Liye, Jumpa Penulis 15 Oktober 2017)
2. Jika motivasi sudah kamu miliki, mantapkan niatmu untuk menulis di blog. Niatkan menulis sebagai ibadah, yaitu menyebarkan manfaat bagi orang lain dan blog adalah salah satu sarananya agar orang lain secara luas bisa membacanya. Jadi tulisanmu dapat menjadi amal jariyah yang akan menolongmu di akherat kelak.
3. Tulislah apa yang menjadi minat kamu, agar bisa rutin menulis tanpa kesulitan. Jika suka berbagi resep dan fotografi isilah dengan hal itu, atau jalan-jalan. Tulislah pengalaman traveling kamu di situ. Bahkan kalau menyukai semua, tidak masalah untuk membuat blog kanu semacam gado-gado. Seiring berjalannya waktu, saat sudah bisa konsisten dan tulisanmu banyak, kamu bisa membuat beberapa blog dan mengklasifikasikannya sesuai dengan kategori tulisanmu.
4. Sering melakukan blog walking dan tinggalkan komen juga link tulisanmu agar mendapat banyak kunjungan, terutama dapat teman. Karena semakin banyak kamu berinteraksi dan mendapat kunjungan, kamu akan semakin bersemangat menulis di blog kamu.
5. Jangan kamu mati sebelum menulis, meskipun hanya satu tulisan, karena dengan menulis kamu sudah menorehkan sejarah, minimal dalam hidupmu. Memberikan kenangan dan warisan bagi anak cucumu kelak. (Helvy Tiana Rosa, Jumpa Penulis 15 Oktober 2017)
Itu dulu tips dari saya. Selamat mencoba dan mulailah menebar manfaat bagi sesama.
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Selamat menulis!
Jumat, 13 Oktober 2017
Keluarga Baruku
Awalnya, aku mengikuti postingan beberapa teman yang kebetulan mampir di beranda fesbukku. Aku hanya bisa membatin, kok enak ya ada sekelompok penulis yang saling dukung untuk bisa terus menulis. Saling komen dan juga kritik. Sungguh teman yang aku butuhkan, karena selama ini, hobi menulis yang iseng aku tuangkan di status fesbuk dikomen bagus, cakep, dan keren. Padahal, feelingku mengatakan tulisanku biasa saja. Hahaha
Lalu, aku beranikan diri untuk mulai berinteraksi dengan mereka yang memiliki panggilan lucu, menurutku yaitu "Nyonyah ketjeh". Ada yang tanggapannya biasa, tapi ada yang langsung hangat dan ramah. Tulisannya semakin lama pun semakin menarik. Terlebih lagi, aku memang penyuka fiksi, jadi aku rajin menunggu tulisannya.
Hingga ada pengumuman untuk mengikuti challenge yang sama, yaitu 30 days writing challenge. Tanpa pikir panjang, aku inbox-lah sesenyonyah itu, dan mulailah babak baru dalam hidupku (tsah ... macam mau nikah saja, ya! Hahaha)
Aku mengikuti serangkaian acara yang diselenggarakan. Berusaha mematuhi semua aturan yang berlaku dan mengunyah materi pelan-pelan dan sebisa mungkin menetapkan pada tulisan demi tulisan berikutnya.
Hingga akhirnya, challenge pun berakhir. Jujur, aku tidak yakin akan menang. Karena setiap GA yang dilaksanakan, aku tidak menang. Tulisanku tidak ada yang mengkritisi, kecuali dari beberapa peserta sendiri. Hingga aku meminta untuk dikritik, mereka baru memberikan sedikit kritik. Aku pun berasumsi, tulisanku tidak sesuai kriteria juri.
Tapi, takdir berkata lain (eeeaaa ... macam judul sinetron). Aku diletakkan di deretan pemenang favorit yang aku ketahui sejarahnya setelah berada di grup WnA. Aih!
Aku yang cenderung suka wait and see dulu, saat masuk ke lingkungan baru mengamati mereka yang aku anggap senior. Dan setelah agak lama, mulai ikut membaur dengan mereka karena ternyata di sana warganya seru.
Apalagi, sesenyonyah yang lapaknya sering aku komen begitu menyenangkan. Aku merasa kerasan dan nyaman.
Berbagai masalah, dibicarakan. Mulai dari yang ringan, berat, tersimpan rapi berupa rahasia, sampai masalah umum. Dari obrolan tak bermutu, remeh temeh sampai obrolan tingkat nasional. Ilmu a sampai z berseliweran tergantung mau nangkap yang mana saking cepatnya lewat. Otakku yang alot pun harus mengunyah lama untuk mempraktekkan. Sehingga latihan untuk taat DL sering lewat tanpa ampun.
Cinta ... aku merasakan cinta dan kasih sayang bagai keluarga di sini, Invinity Lovink dengan rumah WnA (writer and author). Bagaikan sebuah rumah besar dengan orang-orang yang kompleks isinya. Berbagai pemikiran, sifat, watak, karakter, ketulusan, kepandaian, dan lain-lain. Meskipun tak pernah sekali pun bertemu, kurasakan ada ikatan di hatiku. Hingga sesuatu hal, mematahkan hatiku cukup dalam. Sekuat tenaga ku yakinkan, ini hanya mimpi. Kami keluarga, hal seperti ini sudah biasa. Semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti semula dsb. Hingga pada tingkat pemikiran: ini sudah takdir. Berkaryalah kembali, untuk move on dari kenyataan pahit di dalam keluargaku ini.
Bagiku, Infinity Lovink dengan WnA juga The Fighter (bentukan baru) adalah keluargaku. Di sana ada persaudaraan dan kenangan. Bertemu mereka semua adalah rezeki bagiku.
Menjaga ukhuwah atau menjalin sisterhood dengan mereka, memberikan banyak arti.
Semoga, keluarga hatiku ini bisa lebih menginspirasi di luar sana. Menghubungkan sesenyonyah serupa remahan rengginang macam saya dan menginspirasinya, menjadikan dunia lebay menjadi lebih berarti dan berguna untuk keluarganya dan bagi orang lain di sekitarnya.
Love you Infinity Lovink.
Keep inspiring and connecting women!
=========
Selasa, 03 Oktober 2017
Sekeping Rindu Untukmu
By. Nucita
Menanti di batas kesabaran
Menunggu janji yang kesekian
Kuharap, hari ini adalah akhiran
Cintaku mulai lelah, tuk bertahan
Sekeping rindu untukmu, tuan
Kini masih dalam genggaman
Terpaksa akan kulepaskan
Tuk akhiri perihnya penantian
Duhai sang pujaan ....
Mengapa cinta tak seindah impian
Ku tak butuh janji tak berkesudahan
Berikan saja, satu kepastian
Batas waktu menuju penghabisan
Ku melangkahkan kaki ke depan
Menuju satu pintu harapan
Meninggalkan semua kebodohan
Mojokerto, 3 Oktober 2017
Minggu, 01 Oktober 2017
Kado Pernikahan
Setiap orang yang bertemu Lisya, pasti akan mengatakan jika dia adalah orang yang paling beruntung. Sebagai seorang anak yatim dengan kondisi yang memprihatinkan, bisa dipersunting anak orang kaya seperti Dimas.
Tidak ada yang tahu, pergolakan batin seorang Lisya berada di lingkungan keluarga suaminya.
Percintaan yang mereka lalui dulu, tidak mudah. Namun, mereka berhasil menikah setelah Dimas pergi dari rumah. Ibunya tak kuasa menolak keinginan anaknya. Sehingga terpaksa mengabulkan permintaan anak kesayangannya itu. Dimas adalah anak lelaki satu-satunya yang ia harapkan dapat meneruskan perusahaan milik ayahnya. Ibunya ingin, anaknya itu mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya kelak.
Satu tahun berlalu, Lisya dan Dimas masih belum dikaruniakan anak. Ibu mertua yang sedari awal membenci menantunya, seperti mendapatkan bahan untuk selalu menyiksa batin Lisya dan mengompori Dimas agar bersedia menceraikan istrinya. Apa pun yang dilakukan menantunya itu, selalu salah di depan sang mertua. Meskipun Lisya sudah berhati-hati dalam bersikap dan mencoba semua yang terbaik, agar dapat mengambil hati mertuanya.
"Maafkan mama dan aku ya, Lisy."
Hanya kata-kata Dimas itulah yang menguatkan dirinya. Dimas merasa bersalah tapi bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa, sehingga hanya bisa merangkul dan meminta maaf kepada istrinya. Cintanya tulus, tapi sulut bagi Dimas jika harus menyakiti mamanya, walau demi istrinya. Restu pernikahan yang diinginkannya dulu, tidak ia dapatkan dari hati yang tulus seorang ibu.
"Mas Dimas, maafkan aku. Bukan aku tidak bersyukur dapat semua fasilitas mewah di sini. Tapi, batinku tersiksa tak terhingga. Jika kamu berkenan, aku ingin kita menyewa rumah. Biar kecil asal kita bisa mengatur rumah tangga sendiri. Bagaimana, menurutmu?" tanya Lisya di satu kesempatan, saat mereka hanya berduaan.
"Aku sebenarnya juga memiliki pemikiran yang sama denganmu, Lisy. Bahkan sudah mengambil KPR, type rumahnya sih kecil. Tapi aku ingin kita hidup mandiri, mungkin ini jalan terbaik yang bisa aku ambil, untuk.saat ini."
Tidak disangka-sangka, ternyata Dimas juga memiliki pemikiran yang sama untuk hidup mandiri.
Lisya pun menangis haru, merangkul dan menciumi suami tercinta.
"Aku tahu, aku tidak salah memilihmu," bisik Lisya di telinga Dimas.
Mereka lalu meluapkan emosi suka cita dengan bergumul mesra. Melupakan sejenak, semua masalah yang akan mereka hadapi saat berhadapan dengan orang tua Dimas, terutama dengan ibunya.
Dua bulan berlalu, Lisya mengalami tanda-tanda kehamilan. Bersamaan dengan diterimanya ijin mengajukan KPR dari Bank. Dua berita gembira, yang merupakan kado ulang tahun pernikahan setelah dua tahun pernikahan.
===Tamat===
Sabtu, 30 September 2017
Dodol Pengantin Baru
Sebagai pengantin baru, Raiso dan Amis sedang berbunga-bunga. Malam pertama terlewati sudah.
Pagi menjelang, Raiso terlihat gelisah. Menbongkar tas kosmetik sampai tas koper yang belum sempat ditata di dalam lemari. Kamar terlihat berantakan bagai diserang badai.
Amis yang baru terbangun dari tidurnya terkejut.
"Ayang! Kamu, kenapa?"
"KesoFt ... KesoFt-ku hilang. Itu barang berharga milikku, Mis. Tanpanya, aku tak bisa menghadapi dunia," kata Raiso sambil menangis, ia putus asa.
"Sepenting itu, ya? Memangnya KesoFt itu apa, sih?" Amis mendekati Raiso dan memeluknya dengan mesra.
"KeSoFt adalah produk sabun kefir 100% alami, tidak mengandung Hydroquinon, Mercury, atau bahan kimia. Aku tak sanggup hidup tanpanya."
Raiso sesenggukan, membayangkan wajah cantiknya menjadi kasar, kusam, dan penuh jerawat. Sebagai artis terkenal, ia tak sanggup menghadapi para penggemarnya.
Pagi yang seharusnya penuh kegembiraan, menjadi sedikit mendung karena kegalauan yang dialami perempuan cantik berkulit putih bersih itu.
Amis pun, tak sanggup membujuknya, meskipun dia menjanjikan akan mrmbelikan banyak produk kecantikan untuk kulit. Terlihat sekali, istrinya yang memang terlihat mulus, bercahaya, dan penuh pesona itu, hasil nyata dari sabun KesoFt yang telah lama merawat kulitnya.
"Amiiis!!!" jerit Raiso dari balik dapur, membuat suaminya yang baru bercukur terlonjak kaget. Kumisnya terpotong tak beraturan, beruntung tidak mengenai kulitnya.
"Ada, apa sayang?" Terburu-buru ia berlari menemui istri tercinta, takut terjadi apa-apa.
"Ini ... ini ... !" Raiso menunjuk-nunjuk ke dalam lemari es dengan mata melotot, "ini kan, KesoFt aku. Kenapa kamu masukkan freezer?"
"Aku pikir ini camilan, Yang. Maafkan aku, ya!" jawab Amis dengan rasa bersalah. "Habis, bentuknya persis dodol jumbo, itu kan kesukaan aku. Kupikir kamu sengaja membelikannya untukku."
"Kamu yang dodol, keluar kamar mandi gak pakai handuk dan cemong. Untung kita belum punya pembantu." Raiso tidak jadi marah, tapi tersipu-sipu malu melihat suaminya keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang dan mulut belepotan sabun cukur.
=== tamat ===
Minggu, 24 September 2017
Berkah dan Musibah
"Ramdan!" Mak Sum terpekik kaget, melihat kepulangan anaknya yang tak biasa.
Kaki kurus Ramdan terlihat berdebu, sandal jepit butut yang biasa ia pakai tinggal sebelah, ditenteng dengan tangan kirinya.Sedang tangan kanannya menjilati es krim yang biasa ada di iklan televisi. Tapi bukan itu yang membuat perempuan itu terkejut.
Kepala anak semata wayangnya itu terlihat ada bekas darah dan sepertinya asal telah dibersihkan lalu ditutup plester ala kadarnya.
Anak berusia delapan tahun itu pulang diantar Pak Marjo, pedagang kue di pasar. Mak Sum biasa menitipkan kue padanya. Lalu ada seorang perempuan gemuk dengan rambut dicat merah, dandanan wajah yang menor melengkapi penampilannya, ia berjalan di belakang anaknya. Tangan perempuan itu penuh perhiasan emas, berkilauan ditimpa cahaya matahari.
Dan kedatangan mereka yang ganjil, membuat beberapa tetangga ikut berdatangan ke rumahnya yang sempit.
Dua jam yang lalu, ia meninggalkan Ramdan di pasar. Ada pesanan kue mendadak dari pelanggan, anaknya itu tidak mau ikut pulang. Ia biasa berada di pasar, terkadang membantu mengangkat barang-barang dari orang-orang yang berbelanja di sana. Dengan cara itu, ia mendapatkan sedikit upah. Uangnya dia tabung, anak kecil itu tidak pernah merepotkan Mak Sum. Jika menginginkan sesuatu, ia selalu berusaha mengumpulkan sendiri uang. Meski emaknya melarang ia bekerja sebagai kuli angkat, tapi anak berperawakan kecil kurus itu tidak peduli. Sampai akhirnya, emaknya pasrah dengan kemauan keras dari anaknya itu.
Para pedagang sekitar lapak Pak Marjo, sudah hapal dengan ibu dan anak ini. Mereka terkenal jujur dan kue buatannya juga enak. Sesekali, ada pesanan kue datang dari pelanggan Pak Marjo yang diberikan pada Mak Sum. Seperti hari ini, pesanan mendadak yang diberikan, langsung diterimanya. Kebetulan semua bahan masih tersedia di rumah.
Mata Mak Sum terpaku melihat kondisi anaknya, yang dengan cueknya masuk rumah dan duduk di dipan tua yang terletak di pojok rumah. Masih asyik menjilati es krimnya.
Ya, rumah petak yang disewanya memang hanya terdapat satu ruangan saja. Jadi, dipan yang terbuat dari bambu itu ia gunakan untuk tempat duduk bagi tamu sekaligus tempat tidur jika malam tiba.
"Assalamu'alaikum ...." Pak Marjo menyapa Mak Sum.
"Eh ... wa'alaikumsalam. Maaf, silakan masuk," jawabnya sambil tergopoh-gopoh mempersilakan tamunya masuk. "Ada apa ini, ya? Kenapa anak saya babak belur begini, Pak?" ia bertanya dengan suara bergetar menahan tangis.
Rasanya seluruh badannya ikut sakit menyaksikan tubuh kecil anaknya.
"Maaf, Mak. Kita ke sini mau meluruskan masalah si Ramdan sama Ibu ini." Pak Marjo menunjuk perempuan gemuk yang berdiri terdiam di sampingnya, menundukkan kepala dan terlihat salah tingkah.
Mereka, berdiri saja di depan perempuan yang masih kebingungan itu. Maklum, dipan yang ada hanya cukup untuk dirinya, Ramdan dan satu tetangga yang ikut merangsek masuk saat kedua tamunya datang.
Yang lainnya berdiri sambil berbisik-bisik ingin tahu apa yang terjadi pada Ramdan dan si Ibu tadi.
Lalu Pak Marjo menceritakan kronologi pemukulan Ramdan. Peristiwa berawal dari ibu gemuk yang ternyata bernama Suzanti itu berbelanja. Setelah selesai belanja, ia mampir ke lapak Pak Marjo untuk membeli beberapa kue. Saat mau membayar, dompetnya raib. Naas, di dekatnya hanya ada Ramdan yang sedari tadi mengikutinya. Anak kecil itu berharap, bisa membawakan tas belanja perempuan itu.
Dengan kalap, Suzanti menuduh Ramdan telah menyopet dompetnya. Meski anak malang itu berkata tidak, perempuan yang panik itu terus memukuli membabi buta dan menuduhnya maling.
"Saya langsung melerai, Mak. Begitu juga orang-orang sekitar. Kami diam sejenak karena kaget.Tapi begitu sadar, kami langsung melerai dan menjelaskan ke ibu ini.
Kalau Ramdan anak baik dan jujur. Setelah tenang, ibu ini baru ingat. Kalau dompetnya dia taruh di kantong belanjanya, bukan tas besar yang ditentengnya," jelas Pak Marjo. Sementara, ibu berpenampilan bak artis panggung di acara-acara hajatan itu terlihat meneteskan air mata. Mungkin, ketakutannya sudah memuncak. Apalagi para tetangga yang ikut menyimak, mulai bersahutan untuk komentar.
Ada yang gemas dan menyarankan untuk membawa masalah ini ke polisi, akan tetapi ada juga yang menyarankan untuk berdamai saja. Lama kelamaan, ruangan sempit itu menjadi penuh sesak dan ramai oleh tetangga yang ingin tahu.
"Maafkan saya, Bu. Saya khilaf dan telah salah sangka pada anak Ibu. Jangan bawa masalah ini ke polisi ya, Bu. Saya mohon ... ini ada sedikit uang, untuk berobat. Tolong saya, Bu." Wajah bulatnya basah, berlinang air mata.
Lalu ia mengeluarkan sepuluh lembaran uang berwarna biru. Meletakkannya di meja kecil, yang terletak di sebelah dipan tempat Mak Sum duduk.
"Tenang ... tenang ...! Kita di sini, bukan untuk mencari ribut. Tapi untuk.mendapatkan solusi. Kalian jangan memperkeruh masalah!" Pak Marjo berkata tegas dan keras di hadapan para tetangga yang ribut, lalu pandangannya kembali beralih ke Mak Sum.
"Sudahlah, Mak. Masalah ini lebih baik tidak usah sampai ke polisi. Akan panjang urusannya. Emak juga nanti, yang repot."
Pak Marjo menyarankan Mak Sum untuk menerima saja upaya damai dari Ibu Suzanti.
Mak Sum mengangguk pasrah. Ia hanya orang kecil, tidak tahu apa-apa, mungkin lebih baik mengikuti saja, apa yang disarankan Pak Marjo. Upaya damai akhirnya diambil.dan perdamaian itu diakhiri dengan bersalam-salaman dan berpelukan antara mak Sum dan Suzanti. Kemudian, dengan para tetangga yang telah menjadi saksi. Lalu mereka bubar satu persatu.
"Yang sabar, Mak. Anggap ini berkah Ramadhan, bukan musibah."
"Cepat periksa ke puskesmas, Mak. Siapa tahu kepala Ramdan ada sakit yang serius."
"Wes, Mak. Mungkin memang ini jalannya rezekimu. Harus melalui seperti ini dulu."
Dan banyak ucapan lain dari tetangga yang bersimpati padanya, sebelum mereka pamit pulang. Danmeninggalkan Mak Sum juga Ramdan menenangkan diri.
Kini, tinggal mereka berdua. Mak Sum menangis lagi, saat melihat sekujur tubuh anaknya. Lalu ia menggendong tubuh kecil Ramdan ke kamar mandi yang terletak di luar rumah. Ia memandikan dan membersihkan tubuh anaknya itu, dengan penuh kasih sayang.
"Mak, maafkan Ramdan. Tadi batal puasanya. Kata Pakde Marjo kalau sakit boleh batal. Terus Ramdan dibelikan es krim. Batal deh, puasanya."
Mak Sum hanya mengangguk dan tersenyum. Hatinya masih perih, merasa gagal melindungi anak semata wayangnya. Rasa sesal masih terasa di dada, karena telah meninggalkannya tadi.
Tapi, mungkin benar. Ini adalah jalannya rezeki dari Allah untuk anakku. Berkah di bulan Ramadhan. Biar bisa beli baju dan sendal baru.
Tidak lama kemudian, adzan magrib berkumandang.
"Alhamdulillah ...." diteguknya segelas air dari kendi di meja.
Karena hanya air yang ia punya untuk berbuka. Tanpa kurma, es cincau, es kelapa muda, atau pun kolak.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar pintu diketuk kasar. Mak Sum membukakan pintu segera. Tanpa salam, Telasih masuk. Tetangga sebelah rumahnya, ia istri dari preman kampung. Suaminya baru saja kena tangkap sewaktu ada razia preman.
"Utang uang dua ratus, Mak," katanya tanpa basa basi. Enteng, seperti saat seseorang meminta segelas air putih.
"Seratus aja ya, Sih. Gak usah utang, tak kasih. Ikhlas aku," ujar Mak Sum sambil mengambil uang yang masih tergeletak di meja. Mata Telasih mendelik melihat lembaran uang itu.
"Halah Mak, jangan pelit! Dapat rezeki itu dibagi, biar barokah. Seminggu lagi tak kembalikan. Wong dua ratus ribu saja, kok!" Sambil matanya tak lepas dari uang yang ada ditangan Mak Sum.
"Kalau mau, uang seratus ribu ini, ambil. Atau gak usah sama sekali. Aku gak mau kasih hutang sama kamu!" seru Mak Sum dengan nada tinggi.
Bukan tanpa alasan ia bersikap tegas pada perempuan tak tahu sopan itu. Sudah menjadi bahan pembicaraan tetangga, jika ia mudah sekali berhutang, tapi tiba-tiba pikun saat tiba waktunya membayar.
Telasih menyambar uang seratus ribu dari tangan Mak Sum, lalu berlalu pergi. Tanpa pamit atau mengucap terimakasih. Mak Sum mengurut dada. Mungkin hidupnya memang lebih beruntung dari Telasih. Untuk itu, ia berusaha tidak mempermasalahkan sikapnya.
"Alhamdulillah Ya Allah, telah kau cukupkan rezekiku hari ini. Kau yang memberi dan Kau pula yang mengambilnya. Terimakasih atas berkah yang Kau berikan pada hambamu ini."
Doa Mak Sum seusai menunaikan shalat magrib bersama Ramdan anaknya.
**** Tamat ****
*tulisan ini sudah pernah diikutkan challenge dan merupakan tema kedua dari 30 days challenge PT 3 yang diadakan oleh Infinity Lovink. Sebuah grup di FB
Sabtu, 23 September 2017
Menyambut Ramadan
Masjid Al-Akbar terlihat penuh sesak oleh jama'ah yang tengah khusyuk mendengarkan ceramah ustaz Farid. Pengajian yang diselenggarakan dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ustaz mengutip ayat Al-Baqarah 183, untuk menerangkan wajibnya puasa bulan Ramadan yang akan datang, sebentar lagi.
"Jadi Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak, yang dirahmati Allah. Sudahkah mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci Ramadan? Apa saja yang seharusnya disiapkan?" Ustaz mulai menerangkan tentang persiapan yang harus dilakukan seorang mukmin, jika menghadapi bulan Ramadan.
Sementara itu, di antara jama'ah pengajian perempuan, Mimin yang sedari awal ceramah dimulai telah mengantuk. Tiba-tiba berpikir dan mulai melamun. Ibu satu anak itu berpikir.
Iya, mau puasa nih. Belum mempersiapkan apa-apa nih. Mana harga barang-barang sudah mulai naik.
Dibukanya gawai layar sentuh miliknya, ia ingat teman pesbuk yang kemarin menawarkan sembako. Konon katanya, mau naik harga dua kali lipat.
Semoga belum habis terjual. Biar dah, uang belanja bulan ini habis. Mumpung ada promo.
Segera, tangannya sibuk memencet sejumlah nama di kontak WA. Mencari teman yang dimaksud.
Mimin: JENG, PROMO YANG KEMARIN MASIH? AKU MAU DONG, DUA PAKET SEMBAKONYA. YANG BELI SERBET MAKAN SELUSIN BISA TEBUS MINYAK GORENG SEHARGA 22.900 ITU LHO.
Teman Mimin: OH, YANG KEMARIN DAH LANGSUNG ABIS CYIN. ADA PROMO BARU LAGI, BELI 2 CENTONG NASI CANTIK, BISA TEBUS MURAH GULA SEHARGA 11.700. HARGA NORMAL 13RB/KG LHO. DAN MAU NAIK LAGI JADI 15RB. MAU TAH, MUMPUNG MASIH ADA DUA PAKET NIH.
Mimin galau sejenak. Kalau gak diambil, ntar nyesel. Diambil, centong nasi di rumah masih bagus.
Ah, tapi kan bisa untuk simpanan. Mumpung promo ini.
Akhirnya, dia pun mengambil paketan itu. Dan tanpa terasa, ibu muda itu membeli juga beberapa barang yang ditawarkan selanjutnya.
Beberapa hari kemudian, semua barang pesanan datang. Dan sejumlah uang pun berpindah tangan. Mimin termenung, gundah gulana di depan barang-barang pesanannya yang menumpuk di atas meja makan. Di sebelahnya tergeletak dompet warna pink kusam dengan resleting menganga. Habis sudah uang belanja jatah sebulan.
"Bulan puasa belum datang, kamu sudah beli gula, minyak, tepung, kacang ijo, agar-agar, makanan kaleng, sirup, baju-baju, sandal, sarung. Ini lagi, segala centong nasi, sendok garpu plastik, garukan punggung, gelas, piring. Semua sudah ada, dan belum digunakan. Kenapa beli lagi?" Suaminya marah-marah sambil ngomel-ngomel melihat tumpukan barang yang dipesan istrinya.
"Puasa, seharusnya pengeluaran bisa lebih irit, Mah. Ceramah kemarin, Ustaz bilangnya begitu. Bukan malah membengkak, Mah. Ini malah, puasa juga belum. Sudah kalap belanja. Terus, hari ini kita mau makan apa? Uang papah cukup buat bensin, nih!"
"Yaaa ... terpaksa, kita makan seadanya ini aja. Agar-agar sama sarden, Pah. Soalnya Mamah lupa, beras kita sudah habis. Maaf ya, Pah. Mamah telah khilaf." Mimin menjawabnya dengan kalem.
"Apa?!" Suaminya langsung garuk-garuk tembok karena kesal.
===Tamat===
*tulisan ini pernah diikutkan 30 days challenge, yang diselenggarakan infinity lovink di laman FB.
Senin, 08 Mei 2017
Dongeng: Pangeran Kodok
Pada suatu hari. Di sebuah kerajaan yang megah. Terdapatlah seorang putri raja yang manja. Apa pun keinginannya, harus dituruti. Jika tidak, ia akan mogok makan, mogok mandi, tapi tidak mogok makan, karena ia tidak mau kelaparan. Apalagi kalau digoda aneka masakan berbahan dasar jengkol, mana tahan dia.
Putri jenuh bermain di Istana. Dia memutuskan untuk pergi ke taman istana yang luas. Taman itu indah sekali, aneka macam bunga ditanam di sana. Di tengah taman terdapat kolam yang hampir menyerupai danau buatan, karena cukup luas dan agak dalam. Di sekitarnya ada beberapa pohon besar rindang yang rantingnya menjuntai di atas kolam.
Putri memutuskan untuk duduk di bawah salah satu pohon yang terdapat tempat duduknya, karena tidak semua pohon dipasang tempat duduk yang terbuat dari semen dibentuk bulat, menyerupai potongan batang pohon.
Matanya kosong memandang lurus ke depan, melamun. Hidupnya serba mudah, tapi membosankan. Apa pun keinginannya selalu disediakan, tapi tidak pernah membuatnya puas. Ada sesuatu yang kosong di dalam hatinya. Kedua orangtuanya sibuk dengan kegiatan istana. Sedari kecil, ia diasuh oleh dayang-dayang istana. Berganti-ganti, karena tidak tahan dengan sikap manjanya. Ia berbuat begitu demi ingin diperhatikan oleh kedua Raja dan Ratu, namun semua usahanya tidak membuahkan hasil. Mereka lebih memilih mengikuti semua yang dia mau, daripada menunda pekerjaan sebentar saja. Acara makan mereka bertemu, tapi dilarang makan sambil bicara.
Ia memainkan bola emas yang selalu dibawanya. Tak pernah sekali pun ia berpisah dengan bola itu. Ukurannya yang hanya sebesar bola bekel membuatnya mudah untuk dibawa ke mana-mana.
Tanpa sadar, bola melambung terlalu tinggi lalu jatuh ke bawah memental beberapa kali sebelum masuk ke dalam kolam yang gelap.
Putri yang tidak berhasil menangkap bola kesayangannya, menangis di pinggir kolam.
Tak berapa lama, seekor kodok mendekat.
"Kamu kenapa menangis?" Ia bertanya.
"Bola emas kesayanganku jatuh ke kolam itu." Putri terisak sambil menunjuk ke dalam kolam.
"Aku bisa menolongmu, tapi ada syaratnya."
"Benarkah? Aku tidak peduli, apa pun syaratnya aku pasti penuhi." Mata Putri berbinar-binar, ia tidak berpikir panjang. Yang penting, bola kesayangannya kembali.
"Baik, kau tunggulah di sini."
Lalu kodok itu menyelam masuk ke dalam kolam.
Beberapa saat lamanya, putri sudah terlihat gelisah menunggunya.
Kodok melompat keluar dari kolam dengan membawa bola itu di mulutnya.
"Syukurlah." Putri mengambil bola dari mulut kodok lalu pergi kembali ke istana, tanpa mengucapkan terimakasih. Ia juga tak menghiraukan kodok yang melongo.
Malam harinya, saat makan malam berlangsung, kodok datang menuntut janji. Kedua orangtuanya mendengarkan dan marah pada anaknya. Karena wibawanya dipertaruhkan. Sebagai keluarga kerajaan, harus menepati janji-janji yang telah diucapkan.
Akhirnya dengan berat hati, putri bertanya pada sang kodok.
"Baiklah, apa maumu?"
"Aku mau makan dan minum dari piring dan gelasmu. Aku juga mau tidur di tempat tidurmu."
"Apa! Aku tidak sudi!" Putri berteriak marah.
"Janji adalah janji. Untuk itu, sebelum berjanji seharusnya kau berpikir dulu." Tegas sang raja.
Putri tidak kuasa, lalu dengan berat hati mengabulkan keinginan sang kodok.
Saat akan tidur di tempat tidurnya, sang kodok mengajukan permintaan terakhirnya.
"Sebelum tidur, aku mau kau menciumku terlebih dahulu."
Sang Putri naik pitam, diambilnya kodok kurang ajar itu. Dan melemparnya keras-keras ke tembok kamar.
SPLASH!
JDERRR!
Tiba-tiba ada asap tebal keluar dari tubuh kodok yang terlempar, lalu berubah menjadi pangeran yang tampan sekali.
Putri manja itu melongo, lalu disekitar tubuhnya ada asap berputar-putar seperti melilit tubuhnya. Sesaat kemudian, ia berubah jadi kodok.
"Oh, Putri yang sombong lagi manja. Seandainya kau mau mengabulkan keinginanku. Kau pasti kujadikan istriku. Tapi karena mengingkari janji, kini kaulah yang terkena kutukan."
"Tidaaakkk! Kembalikan wujudku. Kau pasti berbohong." Putri Kodok menangis dan panik.
Kedua orangtuanya tak kuasa menghadapi kenyataan. Mereka kompak mati mendadak, serangan jantung kata tabib istana.
Putri yang merasa malu, pergi keluar istana. Hilang ditelan kegelapan malam.
Pangeran hidup berbahagia, mendapatkan istana lengkap beserta isinya secara gratis.
### Tamat ###
*dongeng ini endingnya dibuat berbeda dari dongeng aslinya. Bisa dikatakan ini fiksi penggemar atau bukan, terserah anda bagaimana menilainya...hehehe
*Fiksi penggemar (lebih dikenal dengan sebutan Fanfiction, FF, atau Fanfic) merupakan suatu sebutan yang dikenal luar untuk karya-karya yang dibuat penggemar yang berhubungan dengan cerita tentang para tokoh (atau tokoh fiksi), atau latar yang dibuat oleh penggemar dari sebuah karya asli, alih-alih sang pembuat karya tersebut. Penulisan karya fiksi penggemar jarang diberi kuasa oleh pemilik karya asli, pembuat, atau penerbit; tulisan-tulisan itu juga hampir tidak pernah dipublikasikan secara profesional.
Minggu, 07 Mei 2017
Marina (3)
"Namaku Faro, dari kaum Mer. Bukan putri duyung, separuh manusia dan ikan, seperti pemikiran kalian orang-orang udara. Lucu sekali menggambarkan kaum kami seperti itu."
Dia berkata dengan tatapan meledek, seolah-olah, manusia yang hidup di udara tidak tahu apa-apa.
Marina melengos, kesal.
"Coba kulepaskan tanganmu, menyelamlah sendiri. Kini kau dan laut adalah satu." Faro melepaskan pegangannya, tapi Marina ganti memegang pergelangan tangannya.
"Jangan! Aku takut tenggelam."
"Tidak akan, percayalah. Asal jangan berpikir untuk bernapas atau memikirkan udara. Kau akan baik-baik saja. Cobalah!"
Pelan-pelan dilepaskan tangannya. Ia kini menyelam sendiri.
Tangannya ia tangkupkan lalu ia rentangkan. Marina tertawa gembira, ia merasa jiwanya bebas.
"Sekarang, ikut aku. Akan kutunjukkan tempat yang paling indah di sini."
Lalu ia melesat cepat, Marina tak mau ketinggalan. Dia mengikuti secepat yang ia mampu. Jika tertinggal agak jauh, Faro akan menunggunya dengan sabar.
Mereka menyusuri laut, melewati segerombolan ikan-ikan kecil dan biota laut lain. Sesekali Faro berhenti seperti menyapa mereka. Tapi Marina sama sekali tidak mengerti bahasa mereka.
Kemudian sampailah ia di tempat yang sangat luas, penuh karang beraneka warna. Pasirnya terlihat putih bersih. Ikan-ikan dan makhluk laut yang ada lebih beragam dan bermacam warna. Pemandangan yang sangat indah. Faro terus mengajaknya berkeliling.
Lalu ada tirai cahaya dari atas ke bawah. Marina mendongak ke atas, terlihat ada lapisan cahaya di sana.
"Itu permukaan air laut yang ditimpa cahaya matahari." Jelas Faro.
"Oh ya? Apakah sekarang sudah pagi?" Marina tersentak, ia merasa baru beberapa menit menikmati keindahan alam bawah laut.
"Kenapa? Justru bagus, kamu akan aku ajak melihat kapal karam. Tempatnya agak jauh, tapi selama kau ada di dekatku. Semua pasti aman."
Ia mengedipkan sebelah matanya, menggoda Marina.
"Dulu, banyak orang yang tenggelam sepertimu, kaum Mer banyak yang menolong agar mereka pasrah. Tapi kalian yang dari udara, sulit sekali mendengarkan kami. Mungkin memang tidak ingin meninggalkan udara. Akhirnya, banyak yang mati tenggelam. Sudahlah! Ayo, kita berangkat sekarang." Dengan sekali mengibaskan ekornya, Faro meluncur lurus ke depan.
Tapi Marina bergeming di tempatnya. Entah kenapa, tiba-tiba Ia teringat akan suaminya, juga anak-anak. Sekelebat bayangan-bayangan mereka datang silih berganti, saat suaminya mengucapkan cintanya, " I love You, Ma. Smoga kita selalu bersama, ya ...."
Lalu saat ia mengajari anak pertamanya berjalan juga berbicara.
"Ayo sayang, ucapkan Maaama."
"Maaa ... Maaa."
Tawanya berderai melihat anak pertamanya.
"Pinter anak Mama, selangkah lagi yuk!"
Berganti bayangan si bungsu yang minta digendong. Sesaat kemudian, badannya kembali terasa sesak. Diimpit air dari segala arah.
Di waktu yang sama, Faro yang tidak merasakan kehadiran Marina, menoleh. Dilihatnya perempuan itu tersiksa dan kesakitan karena telah mengingat daratan. Secepatnya, ia berbalik arah. Mengguncang-guncang tubuh Marina.
"Hentikan! Hentikan! Lupakan udara, lupakan! Kau bisa mati."
Ia panik. Lalu ditariknya Marina ke atas permukaan menuju udara. Tidak dipedulikannya lagi, ia akan tersiksa sesaat sebelum berada di udara.
Hampir sampai di atas, Faro merasakan dadanya sakit luar biasa. Udara menyakitinya, walau hanya sesaat sebelum akhirnya ia benar-benar berada di permukaan laut. Ditepuk-tepuknya pipi Marina yang hampir tak sadarkan diri.
"Jangan tidur. Kumohon ... tetaplah terjaga."
Antara sadar dan tidak, Marina mendengar suara-suara. Awalnya tidak terlalu jelas, tetapi lambat laun ia bisa mendengarnya.
Faro. Ia berusaha keras menolong Marina. Akhirnya, ia sepenuhnya sadar dan terbatuk-batuk mengeluarkan air laut yang terminum. Masih dirasakannya sakit yang tak terhingga di sekujur tubuhnya.
Ia menoleh menatap wajah penolongnya. Baru tersadar, jika wajah itu mirip sekali dengan Bara. Hanya saja ia memiliki warna mata yang coklat sedangkan Bara memiliki warna mata yang hitam. Kulit yang dimilikinya pun coklat bagai terbakar sinar matahari. Berbeda dengan suaminya yang jarang terkena sinar matahari langsung.
"Terimakasih." Kata Marina lemah.
"Kau bodoh!" Ia membuang muka. "Sudah kubilang, lupakan udara. Kau akan memiliki kehidupan yang lebih baik di sini." Wajahnya terlihat kecewa.
"Aku tidak bisa, Faro. Aku telah.memiliki suami dan anak-anak. Mereka pasti menungguku pulang." Dengan kedua tangannya, Marina memalingkan wajah laki-laki dari kaum Mer itu, agar melihat wajahnya.
"Aku tidak mungkin selamanya di sini. Tempatku bukan di sini. Aku bahkan tidak tahu, mengapa aku sampai di sini."
Faro menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung mata Marina.
"Apa kau tidak mengingatnya, Marina. Dulu, sewaktu kau masih kecil telah menolongku dari jeratan jala nelayan. Setelah itu, Aku selalu menantimu dan memanggil-manggil namamu. Tapi kau tak pernah hadir. Hingga saat itu. Kau datang memenuhi panggilanku."
Faro menceritakan semua kejadian lampau. Marina mendengarkan tanpa membantah.
Dia memang telah lupa sama sekali tentang hal itu.
Yang diingatnya saat kecil dulu, Ayahnya pernah bercerita. Ia di bawa ke rumah orang pintar atau dukun sepulang berlibur dari pantai. Karena selalu menceracau tidak jelas. Ayah menganggapnya kesurupan hantu laut.
"Sekarang, aku orang yang berbeda Faro. Lagi pula, kita tidak mungkin bersatu. Aku tidak mau tinggal di laut dan kau pun tak mungkin tinggal bersamaku di darat. Tolong bawa aku kembali, Faro. Kumohon!"
Mata Faro terlihat satu kesedihan yang disembunyikan, tapi ia menyetujui permohonan Marina. Ia tidak ingin memaksa perempuan yang diam-diam mengambil hatinya saat itu. Ia tak ingin melihat perempuan cantik itu mati, jika ia memaksa tinggal dan hidup dengannya.
"Baiklah. Tapi, berjanjilah untuk mengikuti perintahku. Sebelum air laut masuk ke tubuhmu, kau harus pasrah dan melupakan bernapas. Melupakan udara untuk sejenak. Aku akan membawamu mendekat ke pantai. Tapi aku tidak mungkin membawamu jauh ke pantai. Kau harus berenang sendiri. Kaummu tak akan menyukai kehadiranku. Mereka akan menangkap dan membunuhku."
Marina mengangguk. Dan menyelam ke dalam laut, setelah pasrah pada laut yang menelannya. Melupakan udara dan tentang bernapas. Membiarkan air laut masuk ke tubuhnya dan menyatu bersamanya. Faro memegang pergelangan tangannya, membawanya menyelam kembali ke arah pantai.
Di tempat yang sepi, di antara batuan karang yang besar. Faro mengajak Marina naik ke permukaan. Saat itu, malam telah datang kembali. Karena waktu di laut dan daratan memiliki perbedaan. Waktu di laut lebih lambat dibandingkan di darat.
Ia melepaskan Marina dengan berat hati.
Dengan sabar ia bersembunyi, menunggu sampai perempuan itu berenang dengan aman kembali ke pantai.
Marina berenang sekuat tenaga ke pantai. Hatinya diliputi rasa rindu sekaligus penyesalan. Karena telah meninggalkan orang-orang yang dikasihinya. Tanpa sadar, ia berenang sambil menitikkan air mata.
Tak pernah ada dalam bayangannya, mengalami hal serupa ini. Faro, laut dan dirinya yang menyatu, pemandangan bawah laut, dan semua cerita Faro tentang masa kecil dan perasaannya.
Di tepian pantai, Marina berdiri. Sesaat sebelum pergi, ia melambaikan tangan ke arah jajaran batu karang. Meskipun yang terlihat hanyalah gundukan hitam di bawah temaram sinar bulan. Ia yakin, Faro masih di sana memandangnya. Menunggunya dan mungkin memanggil-manggil namanya.
Sedang ia harus pergi, menjauh dari pantai dan laut selamanya.
#### Tamat ####
Sabtu, 06 Mei 2017
Marina (2)
Marinaaa ....
Marinaaa ....
Perempuan itu semakin mendekat ke bibir pantai. Setelah ombak menyentuh kakinya, ia merasa ombak berputar-putar di sekitar kakinya. Dan ada magnet yang kuat menarik tubuhnya untuk semakin masuk ke laut.
Sekuat kesadaran yang ia miliki untuk berusaha menolak. Kekuatan itu seperti semakin kuat membelit tubuhnya.
Dan suara itu ... Ia tidak kuasa untuk menghentikan ketertarikannya.
Akhirnya, air laut semakin jauh menyeretnya.
Setelah sepenuhnya tenggelam, Marina seperti tersadar dari hipnotis.
Terlambat, ia sudah semakin ke tengah laut. Gelagapan, tangan Marina menggapai-gapai ke atas. Ia berusaha untuk tidak tenggelam dan berenang. Tapi, seperti ada arus kuat yang menyeretnya masuk ke dalam dan menenggelamkannya.
Marina berteriak-teriak meminta tolong, sebelum akhirnya kelelahan lalu tenggelam.
Di sisi lain, saat ia baru separuh tenggelam tadi. Beberapa nelayan ada yang memergoki tindakannya. Mereka berteriak-teriak mencoba memperingatkan Marina untuk kembali ke pantai. Tapi jarak yang cukup jauh membuat suara mereka tidak cukup terdengar. Apalagi, perempuan itu seperti orang yang tersihir oleh lautan.
Akhirnya mereka panik saat melihat Marina terseret ombak.
Mereka langsung berteriak-teriak ke penjuru pantai, mencoba mencari bantuan dan mencari keluarganya.
Sementara itu, Suami dan anak-anak Marina yang ada di penginapan mulai cemas, saat istri dan mamanya pergi dan sanpai magrib belum juga kembali.
Lalu mereka memutuskan keluar, mencari keberadaan Marina. Sesaat kemudian, terjadi kehebohan di pantai. Ada kabar, seorang perempuan bunuh diri dengan menyeburkan diri ke laut.
Hati Bara, suami Marina pun terasa tidak enak, hatinya sesak, dan Ia mulai panik. Maka dicarinya berita tentang perempuan itu. Bagaimana ciri-cirinya.
Ketakutan menjalari seluruh tubuhnya, akan menjadi penyesalan yang tak terkira jika perempuan itu adalah Istrinya.
Lalu, dia memanggil-manggil orang yang sangat ia cintai itu. Sementara, anak-anaknya menangis ketakutan dan ikut memanggil-manggil mamanya. Mereka, merasakan kepanikan Ayahnya.
"Marinaaa ... Marina di mana, kamu!"
"Mamaaa! Mamaaa!"
Disepanjang jalan yang mereka lalui, dipanggil-panggilnya nama Marina. Dan tak lupa menanyakan kepada siapa saja, orang yang ditemuinya.
Hingga akhirnya Bara pasrah setelah pagi hampir menjelang. Dia melaporkan istrinya yang hilang. Agar mendapatkan bantuan dari polisi dan tim SAR. Meskipun baru bisa dilakukan keesokan harinya.
Jauh di tengah laut, Marina merasakan sakit sekali. Dada dan tubuhnya terasa sesak dan panas. Seperti dihimpit batu besar. Atau seperti diremas-remas sampai hampir gepeng. Sepertinya, air laut sudah banyak yang masuk ke tubuhnya, ia kini hampir pingsan.
Terlihat bayangan wajah Mas Bara, suaminya yang memandang penuh cinta. Memerhatikannya saat ia sakit, memasak, juga menyuapinya.
Lalu berganti bayangan anak-anak yang memanggil-manggil namanya, ingin dimanja dan diperhatikan.
Senyum polos mereka.
Marina merasa, inilah saatnya ia akan mati. Matanya masih terpejam, sejak tenggelam tadi.
Kini ia siap jika akhirnya ajalnya sampai di sini.
"Maafkan aku, Mas Bara. Maafkan mama, anak-anakku sayang."
Saat-saat terakhir, seperti ada suara disamping telinganya, suara yang sama dengan yang memanggilnya tadi.
"Lupakan udara, lupakan semua tentang udara.
Marina! Jangan mengingat bernapas. Lepaskan, pasrah ... pasrah!"
Marina berusaha membuka matanya, samar ia melihat sosok di sampingnya. Kali ini, makhluk itu memegang pergelangan tangannya.
"Pasrah, aku bilang!" Suara itu terdengar membentak dan memaksa untuk menaatinya. Dan ia pun akhirnya menurutinya, pasrah.
Lalu keanehan terjadi. Tubuhnya tiba-tiba berangsur membaik. Rasa sakit, panas, dan sesak di dada juga seluruh tubuhnya lenyap. Bahkan air laut seperti masuk secara keseluruhan tubuhnya.
Ia merasakan tubuhnya menjadi dingin dan ringan. Serasa tak percaya, Marina menoleh ke sosok penolongnya. Yang masih memegang tangannya.
"Siapa, kamu?" Ia seperti tersadar, sosok itu separuh manusia dan separuhnya seperti baju selam. Akan tetapi menyatu dan ujungnya bagaikan ekor. Tepatnya, seperti ekor anjing laut.
"Hahaha. Syukurlah kamu masih hidup, kau sulit sekali diajak berkomunikasi. Dasar makhluk udara." Ia tertawa, tapi Marina tidak melihat mulutnya terbuka. Sangat mengherankan, tapi ia bisa berbicara dan mendengar dengan jelas.
Seperti layaknya berbicara di udara.
"Kamu berpikir kalau aku makhluk aneh? Kamulah yang aneh. Tubuhmu terbelah begitu," sambungnya sambil melihat kaki Marina.
"Apa lagi ini, kau pikir aku putri duyung? Heiii! Aku laki-laki, masak kau sebut aku, putri. Pemikiran makhluk udara selalu aneh begitu." Makhluk itu terdengar tertawa lagi.
Terkejut, Marina mendelik. Ia merasa tidak enak hati karena makhluk itu bisa membaca pikirannya. Lagi pula, kenapa dia selalu tertawa.
"Kalau begitu, pasti ini mimpi," Marina bergumam sambil mencubit pipinya.
#### bersambung ####
Jumat, 05 Mei 2017
Marina
Seorang perempuan bertelanjang kaki berlari di pinggir pantai berpasir putih. Matanya terlihat sembab, bekas menangis. Tapi ia tidak peduli.
Pandangan orang yang masih terlihat bermain di pantai pun tidak dihiraukannya.
Setelah dirasa cukup jauh dari rumah penginapan yang terletak di ujung pantai, ia terduduk di pasir yang lembut.
Tangisnya pecah lagi, ia kesal sekali dengan suaminya.
Jauh-jauh datang berlibur, berharap dapat rekreasi bersama. Bergembira dan seru-seruan dengan suami dan anak-anak. Tapi semua diluar dugaannya.
Suaminya tetap saja bekerja, serius di depan laptopnya. Sesekali gawainya berdering dan mengobrol lama dengan teman kantornya. Urusan kantor, katanya.
Anak-anak yang ribut bercanda dan terkadang bertengkar. Sesekali mendapat teguran keras dari suaminya. Apalagi saat menelpon.
"Jangan rame-rame! Ayah ada kerjaan, nih. Bisa diam sebentar, gak!"
Anak-anak terdiam sejenak, lalu berulah lagi.
Mendengar suaminya uring-uringan, Marina tidak tahan lagi. Ini liburan, dan semua sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Dan suami yang super sibuk itu pun telah berjanji, meluangkan waktu untuk dia juga anak-anak. Berlibur bersama tanpa ada urusan kantor yang dibawa.
"Mas, anak-anak sedang liburan. Bukan salah mereka jika sedikit ribut. Kamulah yang seharusnya mengalah. Bermainlah bersama mereka!" Marina menegur suaminya dengan suara pelan dan agak ditekan, ia tidak ingin terlihat ribut di depan anak-anak. Ia tidak ingin merusak suasana liburan mereka.
"Hmm ... baiklah!" Suaminya cuek, menjawab dengan mata tetap tertuju pada laptopnya.
"Kamu kan sudah janji, untuk liburan. Tapi kenapa masih membawa pekerjaanmu, sih? Bermainlah bersama kami, atau kita jalan-jalan saja di pantai." Marina mulai merasa kesal dengan sikap suaminya. Ia merasa diabaikan.
"Iya, sebentar lagi. Nanggung, nih! Kau tahu sendiri, Bos tadi sudah menanyakannya," jawab lelaki yang sudah menikahinya 7 tahun itu, tanpa menoleh sedikit pun.
Emosi Marina memuncak. Perempuan itu marah sekali. Bukan satu dua kali ini terjadi. Dan ia selalu mencoba mengungkapkan semua perasaannya.
Mengurai masalah yang timbul, dengan membuka komunikasi. Tapi sepertinya, semua sia-sia. Karena kejadian selalu berulang lagi.
Untuk membuang rasa marah dan kesal, ia menghambur keluar penginapan. Berlari dan berlari, berharap angin membawa pergi semua beban di hatinya.
Kini saat terduduk lelah, kakinya mulai terasa perih. Beberapa goresan terlihat di kakinya yang mulus. Mungkin tergores pecahan kerang atau karang-karang yang terserak di sekitaran pantai.
Tapi perihnya tidak lebih perih dari hatinya yang diliputi kecewa.
Lalu sayup terdengar seperti ada suara memanggilnya.
Marinaaa ....
Marinaaa ....
Suara itu seperti berasal dari arah laut. Perempuan itu terdiam, menghentikan tangisnya. Mencoba mempertajam pendengarannya. Mungkin ia salah dengar.
Tidak mungkin ada yang memanggilnya.
Hanya ada suara deburan ombak dan angin yang berembus. Pohon-pohon kelapa terlihat sedikit bergoyang, mungkin suara gesekan daun, batinnya.
Diedarkannya pandangan, pantai terlihat sepi. Hanya ada satu atau dua nelayan juga pedagang yang bersiap pulang. Mereka terlihat sibuk sendiri, tidak mungkin panggilan itu datang dari mereka. Pengunjung pantai sudah tidak terlihat, pasti sudah pulang sebelum senja datang.
Marina berdiri, sebentar lagi gelap.
Diusap air matanya dengan ujung lengannya. Meski masih terlihat sembab, ia tidak peduli.
Hatinya sudah sedikit tenang, setelah berlari dan menangis tadi. Diputuskannya untuk kembali ke penginapan. Walau sedikit enggan bertemu dengan suaminya, tapi ia tidak tega meninggalkan anak-anaknya sendirian. Tidak dipedulikan oleh ayahnya yang gila kerja.
Baru beberapa langkah ia berjalan. Suara itu terdengar lagi, sekarang lebih jelas. Memanggil namanya.
Marinaaa ....
Marinaaa ....
Kali ini, menggodanya untuk mendatangi suara itu.
Ia menoleh ke arah laut, seperti ada sesuatu yang menariknya. Tarikan yang sangat kuat untuk mendatangi suara tersebut.
#### Bersambung ####