Sabtu, 22 April 2017

Ketika Banjir Mulai Surut

Hujan deras seharian membuat kampung kami dikepung banjir.
Kolam ikan gurame Pak Haji Dullah pun jebol. Tidak kuat menampung debit air.

Keesokan harinya, banjir perlahan mulai surut.
Dari setinggi paha hingga setinggi mata kaki.
Nenek Ijah yang sebatang kara.
Bersujud di teras rumahnya.
Di sebelah tiga ikan gurame yang terbawa banjir semalam.

#Flash Fiction

Jumat, 21 April 2017

Bersembunyi

Setelah sholat magrib, kami dikumpulkan di tengah lapangan basket sekolah. Letak lapangan basket itu sendiri bersebelahan dengan lapangan volly di tengah-tengah gedung sekolah. Sekolah menengah ini hanya  memiliki empat ekstra kurikuler saja. Salah satunya adalah teater.
Dan hari ini ada acara pelatihan yang merupakan salah satu jadwal rutin tiap tahun.

Setelah berkumpul, kami disuruh membawa bekal makanan yang menunya sudah ditentukan panitia. Nasi putih dengan lauk tahu tempe yang dibungkus memakai kertas minyak.

Kehebohan terjadi karena bekal tersebut harus kami makan sampai habis. Aku beruntung, karena ibu membungkuskan sedikit nasi dan tahu tempe yang telah dibumbu merah. Sedang teman-teman yang lain, ada yang dibawakan begitu banyak nasi dan lauk tahu tempe yang hanya digoreng. Kami tertawa, menertawakan teman kami tersebut. Karena ia yang terakhir menghabiskan makanannya kita bisa dengan menceritakan hal-hal yang menjijikkan. Terbayang betapa mualnya dia, sehingga tanpa sepengetahuan panitia dibuangnya makanan yang masih tersisa.
Jika orangtua kami atau panitia tahu, pasti kami tidak akan lolos dari hukuman. Karena telah membuang-buang makanan.

Setelah itu kami memasuki acara inti. Beberapa latihan di mulai. Dari latihan pernapasan, akting, gerak, dan dialog kami lewati. Di tengah-tengah acara, aku melihat sosoknya.
"Dia datang, senior playboy kelas teri" aku mengomel dalam hati.
Suasana hatiku berubah menjadi tidak nyaman.
Sengaja aku menghindari setiap dia akan mendekat.
Meskipun beberapa kali telah meminta maaf, aku tidak mau memaafkannya.

Teringat aku, akan kejadian beberapa minggu lalu.
Saat tiba-tiba dia berterus-terang mengatakan tidak ada perasaan apa-apa padaku. Setelah semua perhatiannya membiusku.
Aku merasa begitu picik telah mempercayai semua kata-kata manis darinya dan sekaligus muak seketika itu. Aku tidak akan menyukainya jika dia tidak memulainya. Sakit hatiku tiada terkira. Dan aku menelannya sendiri. Aku begitu malu jika ada yang tahu kebodohanku.

Saat melihatnya lagi sekarang. Tiba-tiba rasa sebal itu muncul kembali. Aku ingin pergi sekarang juga. Tapi malam semakin larut, tidak mungkin untuk nekat pulang.
Hanya satu keinginanku, agar acara cepat usai dan aku bisa tidur. Secepatnya esok datang dan aku akan berlari pulang.
Entah pemikiran macam apa yang merasukiku, aku akhirnya pergi ke kamar mandi sekolah. Bersembunyi. Aku malas melihatnya.
Masuk kamar mandi sekolah malam-malam dan duduk di atas bak mandinya, jika bukan karena rasa benciku pasti aku enggan melakukannya.
Diam saja di sana, tanpa melakukan apa-apa. Menunggu acara demi acara selesai.
Sampai rasa kantukku datang menyerang, kuputuskan untuk keluar. Yang terjadi biarlah terjadi. Tapi kurasa, telah lama aku bersembunyi. Mungkin sekarang acara telah selesai.

Kulihat lapangan telah sepi, dan beberapa ruang kelas yang diperuntukkan tempat beristirahat peserta, ramai oleh suara teman-teman.

Brak!

Kubuka pintu kelas agak keras. Hatiku masih kurang nyaman. Kulampiaskan dengan menghempas pintu. Teman-teman yang semula ramai, berhenti sejenak melihat kedatanganku yang cemberut. Lalu ramai kembali menyambutku.

"Kamu dari mana?" Tanya Aida dengan muka panik. Begitu juga teman-teman yang lain. Mereka segera mengerumuniku.
"Kami mencarimu ke mana-mana. Saat sadar kamu menghilang, kegiatan dihentikan. Apa kamu tadi tidak melewati kakak-kakak panitia? Mereka sekarang, pasti masih mencarimu." Berganti-ganti mereka berbicara. Bertanya bagaimana aku tiba-tiba saja menghilang. Kemana dan kenapa.

Aku bingung, diam tak tahu harus berbicara apa. Tadi lapangan terlihat sepi. Sama sekali tak ada orang. Lalu apa yang terjadi? Aku sungguh tak tahu.

#### Tamat####

Rabu, 19 April 2017

Membakar Rindu

Tepat sepuluh tahun yang lalu, kau meninggalkanku. Mencampakkan lebih tepatnya. Semua bermula dari pertemuanmu dengan mantan pacarmu.
Semua hal yang kita rencanakan, kau lupakan begitu saja. Apalagi janji manismu untuk menghadap orangtuaku setelah kita lulus.
Kau memberi harapan terlalu tinggi.
Ingin mengikatku dengan pertunangan, menikahiku saat kau selesai kuliah dan bekerja.
Sekarang baru aku sadar. Jika aku bodoh.

Jalan yang sama kulalui saat aku datang kembali di Kota ini. Gedung sekolah SMA tempat kita bertemu tidak berubah banyak. Setiap tahun, aku harus melewatinya. Tempat yang kubenci sekaligus kurindui
Di sini, kau pertama kali membuatku tahu arti cinta sekaligus patah hati. Ternyata perihnya tak pernah bisa hilang bersama bergulirnya waktu.

Setiap melihat gedung ini, perih itu semakin meraja. Rinduku padamu menyiksa sekali. Cintaku kau khianati tanpa ada alasan yang pasti. Tak kusadari, aku menangis sejadi-jadinya. Semakin rindu semakin benci ini menggila. Aku harus mengakhiri kegilaan ini.

Aku harus membakar rindu yang menyiksaku, bersama dengan semua kenangan tentangmu.
Yah...Aku harus!
Kubulatkan tekadku. Akan kubakar wahai rindu! Enyah kau selamanya!
Ha ... ha ... ha ....

####

"Dasar biadab! Gila! Tega kau melukai anak-anak!"
Hantaman benda-benda keras dilemparkan ke tubuhku, bogem mentah, juga beragam caci maki dilontarkan mulut-mulut penuh kebencian kepadaku.
Tiba-tiba banyak sekali orang menyerang.
Aku meronta kesakitan dan berteriak-teriak. Sungguh aku tidak tahu apa maksud mereka.
" Lepaskan akuuu! Aku tidak gila, aku tidak salah! Mengapa kalian memukulku!"

Aku hanya ingin membakar rindu. Kenapa aku dianggap gila, keji, dan biadab. Beberapa orang berpakaian putih-putih kini menangkapku, mengikatku dengan sebuah baju.

"Aku tidak gila! Lepaskan!!!"

Semakin meronta, semakin kuat cengkeraman mereka. Lalu sesuatu ditusukkan ditubuhku.
Sebelum semuanya gelap, aku mendengar suaramu, "Istighfar say, aku di sini menemanimu!"
Lalu semua terasa sunyi ....
Sepi ....
Damai ....

#####

"Adakah saksi mata yang melihat pelaku membakar gedung sekolah, ini?" Tanya seorang polisi di antara kerumunan massa.
Dan banyak lagi polisi di TKP mencoba mengumpulkan bukti-bukti.
Sementara mobil-mobil pemadam kebakaran dan ambulan berdatangan. Mencoba memadamkan api yang berkobar dari sebuah gedung sekolah menengah dan mengevakuasi korban-korban kebakaran.

====TAMAT====

Minggu, 07 Agustus 2016

Cinta Palsu

" Cinta tak dapat dipaksakan. Sulit bagiku melupakan Azam. Cobalah untuk sedikit mengerti." Shofa memalingkan pandangannya ke laut lepas. Angin pantai di sore itu menyapu wajahnya yang sayu.
Ferry hanya mematung memandang gadis itu dari arah samping. Hatinya gundah. Masalah keuangan di perusahaannya sudah semakin genting, hanya papa Shofa harapan satu-satunya.

Senja sudah tiba. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi. Sudah berulangkali pemuda itu mencoba meyakinkan tentang ketulusan cintanya. Tapi berulangkali pula Shofa menolaknya.
Dengan memendam gelisah, ia pun mengantarkan gadis itu pulang. Tanpa sepatah kata pun. Hanya angin malam yang dingin menghantarkan kepergian mereka.

Sepulang dari rumah Shofa. Ferry merebahkan tubuhnya di ranjang mewah miliknya. Lelah otaknya memikirkan semua ini. Sulit sekali meraih hati gadis itu. Meski hasrat untuk memiliki harta orangtuanya besar, tapi tidak ia mungkiri jika ia telah jatuh hati padanya.

Iseng ia membuka-buka kontak di hp-nya. Sebaris nama menarik perhatiannya. Nur Azizah.
Keningnya mengernyit, mencoba mengingat sang pemilik nama. Selang beberapa menit kemudian, ia teringat. Ia seorang janda tua yang kaya. Pertemuan kali pertama adalah saat mereka sama-sama tertarik sebentuk akik bernilai wah di sebuah pameran akik bergengsi. Satu tahun yang lalu. Sudah cukup lama. Apalagi tidak ada kontak sama sekali setelah itu.
Meski awalnya terjadi persaingan sengit akan tetapi akhirnya mereka berdamai dan bertukar nomer hp.

" Kalau dipikir-pikir, janda ini tidak terlalu jelek. Hanya saja make upnya sangat tebal dan menor," Gumamnya pelan.
"Sepertinya mudah saja membohonginya ..."

Dengan ragu, ditekannya nomer itu. Mencoba peruntungan, tidak ada salahnya pikirnya.
" Hallo ... " terdengar suara yang terkesan dibuat-buat di seberang sana.
" Hallo ... " Ferry agak ragu untuk meneruskan. Tapi bayangan kerugian perusahaan memaksanya untuk meneruskan. Berharap rayuannya mautnya mendapat sambaran.

###

Di dalam sebuah kamar yang sangat luas dan mewah. Berdekorasi khas kamar pengantin.Kain satin warna pink berpadu serasi dengan bunga-bunga melati dan sedap malam. Bau yang menguar sangat harum dan menenangkan. 
Tetapi, kegelisahan seorang pemuda di kamar itu semakin malam semakin menjadi. Besok adalah akhir dari masa lajangnya. Ia harus pasrah pada seorang wanita tua yang tidak dicintainya.
Di depan kamar, telah berjaga dua lelaki berbadan kekar. Tidak ada jalan baginya untuk melarikan diri.

Keesokan paginya, Sandra terjaga. Sepasang tangan berotot membangunkannya dengan kasar. Entah jam berapa ia tertidur setelah mondar-mandir tadi malam.
"Bangun! Nyonya memanggilmu di ruang tamu." Bentak seorang penjaga pintu tadi.
Agak terhuyung-huyung, Sandra berjalan diikuti kedua penjaga berbadan besar itu.

Di sebuah ruangan bernuansa Eropa klasik, berdiri seorang wanita dengan baju tidur mewah berwarna merah menyala.
"Hai sayang ... Nyenyakkah tidurmu tadi malam?" Katanya sambil tersenyum, meski terlihat seperti menyeringai.
" Maaf, say ... Aku tidak jadi menikah denganmu. Semua barang yang pernah kuberikan padamu aku ambil lagi. Untuk semua baju-baju, silahkan bawa keluar sekarang juga!" Katanya enteng.
Seperti membatalkan beli siomay di gang depan.
Serasa mimpi, Sandra hanya bisa melongo. Tapi itu hanya sesaat. Dengan sisa-sisa kesadaran yang dimiliki, dia langsung melesat masuk kamar untuk mengemasi tas dan baju-baju miliknya. Jangan sampai wanita itu berubah pikiran.
Ia tidak tahu, alasan apa yang menjadi pertimbangan wanita itu untuk membatalkan pernikahan mereka, secepat ia meminta untuk menikahinya.
Yang ada dipikirannya hanya satu, pergi menjauh dan mencari Meela. Gadis yang telah terluka karena pengkhianatan yang ia torehkan

******

Menanti Janji


" Sudahlah, Dia tidak mungkin datang. Pulanglah bersamaku." Ferry mengulurkan tangannya. Menuntun Shofa untuk segera beranjak dari tempat ia duduk. Membawanya pulang dengan motor sportnya menembus kegelapan malam.

Sudah hari ke empat, gadis manis bermata bulat itu datang di halte yang sama. Setiap senja datang sampai rembulan menyapanya lembut.

" Haruskah aku menyerah dan menerima dia saja." kata Shofa pelan hampir berbisik, seraya memandang satu nomer pada telpon genggamnya.

Empat hari yang lalu, melalui pesan singkat. Azam berjanji untuk bertemu. Ada satu hal yang ingin ia katakan. Penasaran, Shofa membalas pesan tersebut. "Tidak bisakah melalui telpon atau sms saja?" Tulisnya. "Belajarlah bersabar, tunggu saja besok di halte depan kampus kita." Jawabnya. Sesak dada Shofa, tidak pernah Azam berkata tegas seperti itu padanya. Dan tak pernah membuatnya menunggu. Selalu mengabarkan setiap keadaan sebelum gadis itu sempat bertanya tentangnya. Sesaat kemudian, nomer itu tak lagi dapat dihubungi.

Ketika yang telah ditinggalkan kini nampak bersinar
Aku hanya bisa berkata...
Lupakah tentang kita
Tentang awal sebuah cerita
Dimulai saat sama sama
Saling mengisi dan menerima

Ferry, lelaki yang kaya. Pengusaha muda yang sangat kharismatik. Sudah beberapa bulan ini mendekati Shofa. Awalnya, pemuda itu adalah rekanan Papa yang kebetulan mampir ke rumah. Lalu mereka berkenalan. Meski tahu Shofa sedang dekat dengan Azam teman sekampusnya dulu, Ferry sama sekali tidak surut langkah untuk mendekati gadis pintar yang memang cantik dan supel itu. Apalagi, sebulan belakangan. Saat Azam pergi keluar kota memenuhi tugas dari atasannya.

Tapi sekarang
Pelan pelan kau menghilang
Menghapus semua kenangan
Melupakan janji dan semua impian

Di seberang jalan. Tepat di depan halte tempat Shofa menunggu Azam. Sesosok tubuh pemuda tinggi kurus, bermantel hitam mengawasi.
Azam, sebenarnya telah datang empat hari yang lalu. Dan setiap hari, ia datang ke tempat yang sama. Memandang dari jauh Shofa yang terlihat cemas menunggu kedatangannya. Tak tega ia melihat tubuh cantik itu menggigil kedinginan. Ingin ia dekati dan menyelumutinya dengan mantel yang dikenakannya. Tapi, diurungkan niat itu. Ferry selalu datang, menyelimuti gadis itu, dan membawanya pergi.

Sulit untuk menemui gadis pujaannya kini. Bukan karena cinta yang pupus. Bukan pula karna takut dengan persaingan yang tidak seimbang dari pengusaha muda itu. Berat baginya mengatakan kata putus. Karena cinta masih menyala di hati. Rasa cemburu, coba ia tahan saat tangan lelaki itu menyentuh tangan pujaan hatinya.
Ada alasan yang membelenggu, yang lebih baik disimpannya sendiri.

Sampai kau sengaja
Menghapus tinta tinta cinta
Yang telah ku uraikan di relung pecinta

Sehari sebelum kepulangannya, Papa Shofa menelponnya. Meminta ia putus dengan anaknya karena, lelaki tua itu baru tahu kalau Azam, lebih suka makan Beng-Beng langsung. Sedang Papanya Shofa sukanya Beng-Beng dingin.

*****

Jumat, 22 Juli 2016

Pencuri Hati


Gerimis pagi itu, dikejutkan oleh kegaduhan dari tim forensik dan beberapa polisi. Tampak pita kuning melintang di sebuah pintu kamar rusun.
Penasaran, aku merangsek maju di kerumunan manusia yang juga ingin tahu kegaduhan apa yang terjadi.

Dari bisik-bisik yang kudengar. Seorang laki-laki mati dibunuh malam kemarin. Diperkirakan ada motif dendam. Karena, tidak ada harta yang hilang. Yang membuat bergidik, mayat korban kehilangan salah satu organ tubuhnya. Hanya satu organ, yaitu segumpal hati. Orang-orang disekitarku berbisik-bisik, menyimpulkan bahwa itu perbuatan mafia  penjual organ tubuh.
Aku tidak ikut meramaikan asumsi mereka. Cukup mendengarkan saja apa yang mereka bincangkan.

Dari melihat kondisi pintu kamar yang tidak rusak, aku berasumsi jika pelaku, pasti dikenal dekat oleh korban.
'Ah, aku terlalu banyak membaca komik Detektif Conan nih!' Pikirku sambil tersenyum.

Karena sudah tahu ada apa dengan tetangga kamarku. Aku bergegas kembali ke kamarku sendiri. Bersiap-siap pergi ke tempat kerja.

Teringat satu peristiwa di bawah rusun, kemarin siang. Aku tidak ingin menjadi saksi. Lebih baik aku pergi bekerja dan konsentrasi dengan masalahku saja. Hidupku sudah cukup rumit tanpa ditambah masalah orang lain.

******

Siang itu cukup terik, aku berlari menuju tangga rusun yang kumuh.
Gajiku hanya mampu menyewa sebuah kamar rusun di daerah ini.
Saat separuh anak tangga kulalui. Terdengar suara perempuan dan laki-laki sedang adu mulut di bawah. Semakin dekat semakin jelas aku mendengar apa yang mereka ributkan.

"Kau gila, Mas! Dulu Kau bilang hatimu hanya untukku. Knapa sekarang Kau ingin menikah dengan perempuan lain." Teriak seorang  gadis yang kuperkirakan masih berusia 20an.

"Maafkan aku, aku sudah lama ingin memutuskanmu. Tapi Kau bilang, akan bunuh diri jika kutinggalkan. Aku juga tidak tahu, mengapa cintaku padamu sirna. Dan aku juga tidak pernah menyangka kalau harus jatuh cinta lagi." Seorang lelaki muda terlihat frustasi mencoba untuk menenangkannya.

"Tidak, Mas ... Aku tidak terima. Kau sudah berjanji padaku. Hatimu hanya untukku, milikku seorang. Kau tidak boleh perlakukanku seperti ini!!" Gadis berbaju kuning itu menangis histeris dan menarik-narik tangan pemuda itu. Lalu kulihat pemuda itu berhasil melepaskan diri dan meninggalkan perempuan itu menangis bersimpuh di lantai.
Setelah itu, aku meneruskan langkahku ke kamar. Aku pun dengan cepat melupakan adegan pertengkaran itu. Karena, aku memang tidak terlalu suka mengurusi urusan orang lain.
Aku lebih memilih tidur untuk meredakan penat tubuh dan pikiranku. Mencoba membuang senyummu dari pikiranku saat kuterpejam dan terjaga.

*****

Jangan mudah berjanji, karena esok adalah misteri.
Jika janjimu terlanjur terpatri, penuhilah dengan sepenuh hati.
Hati dan cinta ini akan kubawa mati.
(seorang gadis berbaju kuning dalam tidur panjangnya di dasar sungai. Di tangannya ada segumpal hati yang sudah koyak dan secarik kertas perpisahan)

Sabtu, 24 Mei 2014

SEPATU KACA UNTUK DINA

Langit masih terang saat kaki-kaki lelah Emak melangkah pulang. Rasa penat bercampur rasa Syukur tergambar di wajahnya yang terlihat tua. Ya, terlihat tua dari umur yang sebenarnya. Lima puluh tahun baru akan ia lewati pertengahan tahun ini. Tapi, guratan-guratan diwajahnya menggambarkan sepuluh tahun lebih tua dari umur sebenarnya.
Pukul empat sore, semua dagangan jamu yang ia jajakan ludes tak bersisa. Tidak setiap hari, rejeki seperti ini didapatnya.
Teringat rengekan Dina, putri semata wayang yang sekarang pasti sudah menunngu di rumah.
"Mak, sepatu sekolahku sudah tidak bisa dipakai lagi..." rengeknya suatu pagi.
Hati wanita paruh baya itu perih, sepatu itu sudah penuh dengan tambalan dan jahitan. Sulit memperbaiki kerusakannya lagi.

Tiba-tiba...
Kakinya terasa menginjak sesuatu yang tajam. Sakit dan perih amat terasa.
Diambilnya benda tajam yang menembus sandal jepit tipis yang ia kenakan. Pecahan kaca yang lumayan besar. Ternyata tanpa sadar, wanita kurus itu menginjak pecahan-pecahan kaca dari pecah belah yang berserakan di depan sebuah rumah besar. Dari halaman dalam sampai di luar pagar.
Entah apa yang terjadi di dalam rumah mewah itu.

Darah segar menetes dari kaki-kaki hitamnya. Dengan menahan sakit, Emak mencari tempat rindang untuk duduk dan membebat kakinya dengan sesobek selendang pembawa bakul jamunya.
Sekedar penahan agar bisa kembali meneruskan perjalanan pulang.
Sebelum meneruskan perjalanan, dicarinya tas plastik besar untuk tempat pecahan-pecahan kaca yang berserakan. Dalam benaknya, ia tidak ingin ada orang lain yang terluka seperti dirinya. dipungutnya satu persatu pecahan-pecahan  yang ada di luar pagar dan tempat-tempat yang terjangkau tangannya.
Setelah semua dirasa cukup, ia pulang. Ditengah perjalanan, terbersit pikiran untuk memanfaatkan saja hasil pungutannya hari ini.
Bergegas dibawanya pecahan-pecahan kaca itu ke Haji Somad. Pengepul barang-barang rosokan yang rumahnya selalu ia lewati saat pulang ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum. Bu Kaji, saya bawa pecahan-pecahan kaca, apa bisa ditukar uang..." katanya pada seorang ibu-ibu muda berkalung emas ukuran besar.
"Wa'alaikumsalam. Oalah, Emak toh. Iya, Mak...sini tak timbange" sahutnya dengan ramah dan logat Jawa yang kental.

Saat menunggu barangnya ditimbang, mata Emak tertumbuk pada sepasang sepatu bekas yang ukurannya sama dengan kaki Dina. Tapi ia tidak berani bertanya. Hanya diam dan membatin saja.
Akhirnya, Bu Haji Somad sudah selesai menimbang. Ditolehnya Emak yang sedang asik melamun.
"Mak, Emak lihat apa?" tanyanya sambil menyerahkan beberapa lembar Pattimura di tangan Emak.
"Oh, ndak...ndak, Bu Kaji," jawab Emak gugup.
Bu Haji Somad mengarahkan pandangannya ke arah yang dilihat oleh Emak.
"Emak berminat sama sepatu itu? Kebetulan kemarin ada yang butuh uang dan menjualnya di sini." terang wanita muda berkerudung merah itu, seperti tahu apa yang ada di benak Emak.
"Kalau Emak mau, tukar saja uang hasil kaca-kaca tadi untuk sepatu itu," sambungnya.

Seperti tidak percaya, tapi akhirnya Emak pun setuju untuk menukar uang penjualan kaca yang sudah melukai kakinya dengan sepatu untuk Dina. Memang bukan sepatu baru, tetapi masih cukup bagus dan layak untuk dipakai ke sekolah.

Sesampainya di rumah, Dina menyambut Emaknya dengan wajah yang berbinar-binar.
Sepatu di tangan wanita tua itu membuatnya bahagia. Emak bersyukur memiliki anak seperti Dina. Anak berperawakan sedang itu dari kecil hingga berumur 14 tahun saat ini tidak pernah menyusahkannya.
Ia begitu mandiri, bahkan sebelum Bapaknya meninggal saat dia masih berumur 6 tahun.

Gadis manis pelipur lara seorang ibu yang berjuang sorang diri demi menyambung hidup.
Ajarannya untuk selalu bersyukur akan nikmat yang Allah beri, selalu diingat gadis yang sudah mulai beranjak dewasa itu.

Setelah shalat magrib berjama'ah, ia ceritakan asal rizki yang diterima hari ini.
Awalnya ada gurat kesedihan di mata Dina, tapi Emak berhasil meyakinkannya. Apa yang terjadi padanya hari ini adalah jalan dari Allah untuk mendapatkan rizki.
Bahkan setelah itu mereka berdua tertawa dan menamai sepatu itu dengan 'sepatu kaca'.
Karena, berkat kaca yang melukai kaki Emaknya, ia bisa mempunyai sepatu lagi.


  



















h